Alamat Majelis :
Jalan Syekh A Somad Lorong Kemartan 22 ilir Palembang
Belakang Universitas Bina Husada

Selasa, 09 April 2013

Sayidina Abu Bakar Ash Shiddiq








Abu Bakar Ash Shiddiq
Demokrat Penegak Keadilan

Hanya dalam 2,5 tahun kepemimpinannya, rakyat mencatatnya sebagai khalifah (pemimpin) Islam yang sukses memberantas kemiskinan, menciptakan stabilitas sosial dan politik, serta solidaritas kemanusiaan yang tanpa batas. Sekalipun dia pedagang kaya, tapi kesederhanaan dan kelembutan kepribadiannya selalu mendasari setiap kebijakan dan kepemimpinannya sebagai pengganti Rasulullah SAW.

Padahal, boleh dikata berbagai ancaman, disintegrasi dan cercaan yang dialamatkan kepadanya, tak kalah hebatnya dibanding pada masa Rasulullah. Namun, itu semua dihadapi dengan hati bening, jiwa lapang, dan pikiran jernih. Ia senantiasa mengembalikan semua persoalan yang dihadapinya kepada ajaran yang hanif.

Abu Bakar bernama lengkap Abdullah bin Abi Kuhafah At-Tamimi. Nama kecilnya adalah Abdul Ka'bah. Gelar Abu Bakar diberikan Rasulullah karena cepatnya dia masuk Islam (assaabiquunal awwaluun, yakni golongan pertama yang masuk Islam). Sedang Ash Shiddiq yang berarti 'amat membenarkan' adalah gelar yang diberikan kepadanya lantaran ia segera membenarkan Rasulullah SAW dalam berbagai peristiwa.

Dari garis kedua orang tua, Usman bin Amir bin Amr bin Sa'ad bin Taim bin Murra bin Ka'ab bin Lu'ayy bin Talib bin Fihr bin Nadr bin Malik (ayah), dan Ummu Khair Salama binti Skhar (suku Quraisy) terlihat, Abu Bakar termasuk dari suku terhormat, yakni suku Taim (ayah) dan Quraisy (ibu). Kedua suku ini banyak melahirkan orang besar.

Sejak kecil, Abu Bakar dikenal sebagai anak yang cerdas, sabar, jujur dan lembut. Ia menjadi sahabat Nabi SAW sejak keduanya masih usia remaja. Karena sifatnya yang mulia itu, ia banyak disenangi dan disegani oleh masyarakat sekitar, juga lawan maupun kawan saat memperjuangkan Islam.

Abu Bakar yang juga mahir dalam ilmu hisab itu, dikenal mempunyai kedudukan istimewa di sisi Nabi SAW. Bahkan salah satu putrinya, yakni 'Aisyah Ra, kemudian dinikahi Rasulullah.

Secara universal, sesungguhnya prototipe Abu Bakar mungkin dapat digolongkan sebagai pejuang Islam yang sejak awal konsisten membela kaum tertindas, tak pandang bulu. Seperti dikutip Jamil Ahmed dalam Seratus Muslim Terkemuka, Abu Bakar tak pernah absen dalam setiap pertempuran menegakkan kebenaran dan menumpas penindasan.

Perjuangannya itu semakin berat sejak dirinya dipilih sebagai khalifah, menggantikan Rasulullah yang wafat pada 632 M. Ketika itu, wilayah kekuasaan Islam hampir meliputi seluruh semenanjung Arabia, dan terdiri berbagai suku.

Terpilihnya Abu Bakar yang juga disepakati kalangan sahabat itu dinilai tepat saat negara dalam kondisi tak menentu. Dalam pidato baiat yang dilakukan di Masjid Nabawi, Madinah, Abu Bakar antara lain menyatakan, "Orang yang lemah di antara kalian akan menjadi kuat dalam pandangan saya hingga saya menjamin hak-haknya seandainya Allah menghendaki, dan orang yang kuat di antara kalian adalah lemah dalam pandangan saya sehingga saya dapat merebut hak daripadanya.

Taatilah saya selama saya taat kepada Allah dan Rasul-Nya, dan bila saya mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, janganlah ikuti saya."

Sebagai pemimpin, kedermawanan dan solidaritas kemanusiaannya terhadap sesama tak diragukan lagi. Ketika Abu Bakar diangkat menjadi khalifah, kekayaannya mencapai 40.000 dirham, nilai yang sangat besar saat itu. Kekayaan itu seluruhnya didedikasikan bagi perjuangan Islam. Soal ini, sejarawan Kristen Mesir, Jurji Zeidan, punya komentar menarik. Katanya, "Zaman khalifah-khalifah yang alim adalah merupakan keemasan Islam.

Khalifah-khalifah itu terkenal karena kesederhanaan, kejujuran, kealiman, dan keadilannya. Ketika Abu Bakar masuk Islam, ia memiliki 40.000 dirham, jumlah yang sangat besar waktu itu, akan tetapi ia habiskan semua, termasuk uang yang diperolehnya dari perdagangan demi memajukan agama Islam.

Ketika wafat, tidaklah ia mempunyai apa-apa kecuali uang satu dinar. Ia biasa jalan kaki ke rumahnya maupun kantornya. Jarang terlihat dia menunggang kuda..."

Keikhlasannya yang luar biasa demi kemakmuran rakyat dan agamanya itu, kata Jurji, sampai-sampai menjelang wafatnya, Abu Bakar memerintahkan keluarganya untuk menjual sebidang tanah miliknya dan hasilnya dikembalikan ke masyarakat sebesar jumlah uang yang telah ia ambil dari rakyatnya itu sebagai honorarium, dan selebihnya agar diberikan kepada Baitulmal wat Tamwil, lembaga keuangan negara.

Stabilitas dan keamanan masyarakat, di antaranya yang paling menonjol dalam 'rapor' pemerintahan Abu Bakar. Karena dinilai sebagai amanat negara, Abu Bakar mengangkat Umar bin Khaththab sebagai kadi (hakim).

Namun, selama setahun sejak diangkat sebagai kadi tak satupun pengaduan dari masyarakat muncul. Ini karena rakyat terbiasa hidup jujur dan bersih dibanding masa sebelum Islam. Sementara Ali, Usman, dan Zaid bin Tsabit diangkat sebagai khatib.

Di medan pertempuran, sang khalifah juga mengajarkan bagaimana berperang yang baik. Sepuluh pesan yang kerap disampaikan khalifah yang wafat pada 13 H, dalam usia 63 tahun itu, ketika hendak melepas pasukannya ke medan perang adalah: "Jangan berkhianat, jangan berlebih- lebihan, jangan menipu (berbuat makar), jangan membunuh lawan dengan cara-cara sadis, jangan membunuh anak-anak, lelaki lanjut usia, dan wanita.

Juga jangan menebang pohon-pohon kurma yang sedang berbuah, jangan melakukan pembakaran, jangan menyembelih domba, sapi, dan unta kecuali hanya untuk sekadar kebutuhan makan dagingnya. Nanti kalian akan berjumpa dengan orang-orang yang bertapa dalam biara, maka biarkanlah mereka dan jangan mengusiknya."n hery s/berbagai sumber

Dijamin Masuk Surga

Menjadi Muslim yang baik dan selalu taat pada agamanya tidaklah mudah. Tapi jalan menuju hal itu selalu terbuka. Sejarah mencatat, Abu Bakar satu dari sekian banyak sahabat Rasulullah yang dengan tegar dan tabah menghadapi berbagai cobaan dan tantangan dalam mengamalkan ajaran Islam.

Tapi jangan pula ditanya seberapa besar kesetiaan Abu Bakar kepada Rasulullah, atau sejauh mana kualitas keimanannya kepada Allah.
Soal ini, Nabi sendiri dalam banyak sabdanya secara khusus berujar tentang diri dan kebaikan Abu Bakar. Kata Nabi SAW, seperti diriwayatkan Imam Bukhari, "Sesungguhnya Allah mengutusku kepadamu dan kamu berkata, "Engkau dusta! Sedangkan Abu Bakar berkata, "Dia benar." Abu Bakar menyantuni aku dengan dirinya dan hartanya.

Tidakkah kalian berhenti mengganggunya. Sesudah itu, Abu Bakar tak lagi diganggu." Masuknya Abu Bakar ke dalam Islam pun tak kalah pentingnya sebagai 'ibrah (hikmah) kita semua. Kisah itu berawal ketika Abu Bakar bertemu Rasulullah. Kepada Rasul terakhir ini, ia bertanya, "Ya Muhammad apakah benar apa yang dituduhkan kaum Quraisy (kaumnya Abu Bakar sendiri, Red) terhadapmu bahwa kamu meninggalkan tuhan-tuhan kita, merendahkan akal pikiran kita dan mengkufuri ajaran-ajaran nenek moyang kita?" "Ya benar! Sesungguhnya aku ini Rasul Allah dan Nabi-Nya.

Allah mengutus aku untuk menyampaikan risalah-Nya dan mengajakmu kepada Allah yang benar. Demi Allah, itu adalah hak. Aku mengajakmu, hai Abu Bakar kepada Allah Yang Esa, tunggal, tiada sekutu bagi-Nya. Janganlah kamu menyembah selain Allah dan patuh serta taatlah kepada- Nya," jawab sang Nabi. Abu Bakar pun masuk Islam.

Sejak masuknya Ash Shiddiq ke agama terakhir ini, perjungan dakwah Islam yang dilakukan Rasulullah makin kuat. Ia yang termasuk periode awal para pemeluk Islam itu, menjadikan seluruh jiwa, raga dan harta Abu Bakar, hanya untuk perjuangan dakwah Rasulullah.

Perlindungan dan pengorbanannya setiap saat terhadap sang Rasul pun dilakukannya sampai-sampai ia tak memedulikan lagi dirinya sendiri. Soal ini, Rasulullah, sebagaimana diriwayatkan Ibnu Majah dan Imam Tirmizi, bersabda, "Tiada seorang pun bermanfaat bagiku hartanya sebagaimana bermanfaat bagiku harta Abu Bakar."

Sosok Abu Bakar yang memang memiliki sifat-sifat yang sama seperti Rasulullah, di antaranya amanah, tablig (menyampaikan), fathanah (cerdas), teguh pendirian dan taat beragama, rendah diri dan selalu mendahulukan kepentingan orang lain, itulah yang membuat Rasulullah dalam banyak hal memberikan kepercayaan pada diri Abu Bakar.

Dengan kepemilikan hartanya yang cukup banyak, lantaran ia memang saudagar kaya di masanya, Abu Bakar menjadikan seluruh harta yang dimilikinya hanya untuk mengabdi di jalan-Nya. Sekalipun dalam kondisi sakit misalnya, Abu Bakar senantiasa menyambut ajakan amal baik. Seperti dijelaskan sahabat Umar bin Khaththab, "Aku tidak pernah mendahului Abu Bakar dalam mengamalkan kebajikan. Dia yang selalu mendahuluiku."

Perjuangan dan pengorbanan Abu Bakar yang penuh keikhlasan itu oleh Allah akan dibalas dengan surga. Sebagaimana diceritakan Abu Dzaar Ra, ketika Rasulullah masuk ke rumah 'Aisyah Ra, beliau mengatakan Abu Bakar termasuk dalam al 'asyarah al mubasysyiriina bil jannah (sepuluh orang yang dijamin Rasulullah bakal masuk surga). Dalam kelompok ini juga ada Umar bin Khaththab, Usman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Thalhah bin Ubaidillah, Zubair Ibnul Awwam, Abdurrahman bin 'Auf, Sa'ad bin Abi Waqqas, Said bin Zaid, dan Abu Ubaidah Ibnul Jarrah.n her


Sayidina Umar 'Al Faruq' Ibnul Khaththab









Umar 'Al Faruq' Ibnul Khaththab
The Guardian of Islam

"Aku abdi kalian, kalian harus mengawasi dan menanyakan segala tindakanku. Salah satu hal yang harus diingat, uang rakyat tidak boleh dihambur-hamburkan. Aku harus bekerja di atas prinsip kesejahteraan dan kemakmuran rakyat."

Kutipan pidato Umar bin Khaththab tak lama setelah dibaiat menjadi khalifah (pemimpin umat Islam) menggantikan Abu Bakar Ash Shiddiq yang meninggal karena sakit itu, mengajarkan betapa prinsip dan nilai kemanusiaan dan keadilan harus menjadi pegangan utama seorang pemimpin. Bagi Umar, hanya dengan sikap pemimpin yang demikianlah rakyat yang mengamanatinya akan merasakan kedamaian, kesejahteraan, dan solidaritas tak berbatas.
Sepanjang sejarah Islam, Khalifah Umar merupakan sahabat Rasulullah yang paling banyak dibicarakan karena gagasan-gagasan dan perannya berkaitan dengan Islam. Bertubuh tegap, hitam dan tinggi, Umar yang dilahirkan pada 581 M ini dikenal sangat keras dan tegas dalam pendirian. Saking kerasnya itu, ia disegani dan ditakuti di kalangan masyarakatnya, suku Adi. Suku Adi termasuk dalam rumpun suku Quraisy. Kedua orang tua Umar, Khaththab bin Nufail Al Mahzumi Al Quraisyi dan Hantamah binti Hasyim, berasal dari suku Adi.
Umar remaja yang dikenal sebagai pegulat dan sering mempertontonkan kebolehannya dalam pesta tahunan pasar Ukaz, Mekkah, itu telah memiliki banyak kelebihan dan kejeniusan, antara lain dapat memprediksi dengan tepat apa yang akan terjadi, serta memiliki sikap santun dan jiwa kepemimpinan. Berkat kelebihannya itu pula, tak jarang ia dipercaya mewakili sukunya dalam berbagai acara maupun perundingan-perundingan dengan suku lain. Peran itu membuat dirinya terkenal di kalangan orang- orang Arab jahili. Rasulullah SAW sendiri mengakui dan memuji kelebihan Umar tersebut.
Nabi SAW bahkan secara khusus mendoakan Umar, "Ya Allah, kuatkanlah Islam dengan salah seorang dari Amr bin Hisyam atau Umar bin Khaththab." Allah mengabulkan doa Nabi SAW dengan masuknya Umar ke dalam Islam pada 616 M. Sebelum masuk Islam, Umar dikenal sangat keras menentang seruan Muhammad SAW. Bahkan, ia pernah mengadakan percobaan pembunuhan terhadap diri Nabi SAW. Ketika mendengar adiknya, Fatimah, dan suaminya masuk Islam, ia sangat murka. Namun sikap keras itu berubah sejak dirinya masuk Islam. Berislamnya Umar lalu diikuti keluarganya, seperti Abdullah, dan istrinya, Zainab binti Ma'zun, tokoh suku serta para pengikutnya.
Sejak masuk Islam, Umar dikenal sangat dekat dengan Rasulullah. Sampai- sampai Nabi SAW melukiskan kedekatannya dengan berkata, "Jika saja Allah mengizinkan harus ada nabi lainnya setelah aku, dia tidak lain adalah Umar." Karena keteladanan sikapnya itu pula, Nabi SAW memberi gelar Umar sebagai 'Al Faruq' yang berarti 'pembeda' atau 'pemisah'. Maksudnya, Allah telah memisahkan dalam dirinya antara yang hak dan yang batil. Umar pula satu-satunya orang yang berani menyampaikan pikiran dan gagasan- gagasan di hadapan Nabi SAW, bahkan tak jarang kritik untuk kemaslahatan umat. Misalnya, dalam satu kesempatan bersama Rasul, Umar mengusulkan kepada Nabi agar memerintahkan isteri-isterinya memakai hijab (tirai) dengan maksud agar mereka berbicara dengan tamu- tamunya dari belakang hijab. Menurut Umar, karena yang berbicara dengan mereka tidaklah semua orang baik, ada pula yang jahat. Tak lama kemudian, turunlah ayat tentang hijab yang membenarkan pendapat Umar.
Ketika menggantikan Abu Bakar Ash Shiddiq, Umar tak segan-segan menindak siapapun yang melanggar hukum. "Sekalipun aku ini keras, tapi sejak semua urusan diserahkan kepadaku, aku menjadi orang yang sangat lemah di hadapan yang hak," tegas Umar di depan rakyatnya.
Soal keadilan yang keras ditegakkan Umar ini, ada kisah menarik. Suatu ketika, putra Amru bin 'Ash (gubernur Mesir) berpacu kuda dengan penduduk setempat. Lalu mereka berselisih dalam menentukan pemenangnya. Putra Amru marah dan memukul orang Mesir tadi, seraya berkata, "Aku ini putra dua orang yang mulia." Mendapat aniaya, orang Mesir tersebut mengadu kepada Umar. Dengan nada berang, Umar memanggil gubernur Amru dan anaknya. Umar lalu menyuruh orang Mesir memukul gubernur Amru, dengan demikian putranya tak akan lagi berani sewenang-wenang. "Sejak kapan kamu memperbudak manusia padahal mereka dilahirkan oleh ibu-ibu mereka dalam keadaan bebas merdeka," bentak Umar kepada Amru.
Di masa Umar pula, wilayah kekuasaan Islam terus bertambah. Ia di antaranya sukses menaklukkan Mesir dengan gubernur pertamanya, Amru bin 'Ash. Amru lalu dikenal sebagai pembawa pertama Islam ke wilayah Afrika utara. Islam juga meluas hingga ke Libia, Barqoh, Persia, Irak, Armenia, Khurasan, Nisabur, Azerbaijan, Basra, Syria, Yordania, Gaza, Baitul Maqdis, dan beberapa daerah di sekitar Laut Tengah. Selain meneruskan kebijakan pendahulunya, Khalifah Umar juga membuat gebrakan-gebrakan revolusioner dalam pemerintahannya. Untuk kepentingan pertahanan, keamanan dan ketertiban dalam masyarakat misalnya, Umar mendirikan lembaga kepolisian, korps militer dengan tentara terdaftar. Mereka digaji yang besarnya berbeda-beda. Ia juga mendirikan pos-pos militer di tempat-tempat strategis.
Di bidang hukum, Umar melakukan pembenahan peradilan Islam. Dialah orang pertama yang meletakkan prinsip-prinsip peradilan dengan menyusun sebuah risalah yang dikirimkan kepada Abu Musa Al Asyary. Risalah itu kemudian disebut Dustur Umar (konstitusi Umar), atau Risalah Al Qadla (Surat Peradilan). Untuk meningkatkan mekanisme pemerintahan di daerah, Umar melengkapi gubernurnya dengan beberapa staf, seperti sekretaris kepala, sekretaris militer, pejabat perpajakan, pejabat kepolisian, pejabat keuangan, dan hakim serta pejabat jawatan keagamaan. Terobosan lainnya, sebagaimana dikutip buku Al Asyrah Mubasysyirun bil Jannah, Umar orang yang mensunnahkan shalat tarawih, membuat kalender Islam (hijriyah), membangun baitul mal wa tamwil, mengharamkan kawin mut'ah, menetapkan pengenaan zakat atas ternak kuda, menciptakan uang logam, menggunakan pos untuk pengiriman surat, memperluas Masjid Nabawi, mengangkat pejabat pengawas harga kebutuhan, serta menetapkan ketentuan pembagian warisan, dan lain sebagainya.
Betapapun, Umar yang wafat ditikam seorang Majusi bernama Abu Lu'luah ketika tengah shalat Shubuh pada tahun 13 Hijriyah, telah mewariskan nilai- nilai berharga yang berkatnya menjadi modal utama menata sebuah masyarakat dari kondisi anarkhis, tak beradab, menjadi masyarakat yang manusiawi dan sejahtera. Ia bahkan tak segan-segan mengajak umat non- Muslim ikut berpartisipasi dalam pemerintahan dan pembangunan, tanpa pandang bulu.n hery sucipto/berbagai sumber
boks



Ijtihad, Agar Umat Tidak Jumud

Aspek yang tak lepas dari diri Umar bin Khaththab adalah masalah ijtihad berkaitan dengan berbagai persoalan hidup dan perkembangan zaman yang tak ada nashnya baik dalam Alquran maupun Hadis. Beberapa ijtihad yang dilakukan Umar di antaranya adalah soal penghimpunan Alquran dalam satu mushaf. Ketika itu kekhalifahan dipegang sahabat Abu Bakar Ash Shiddiq, sedang Umar salah satu pembantunya di pemerintahan.
Argumentasi Umar adalah banyaknya para sahabat yang hafal Alquran mati syahid dalam berbagai pertempuran. Ia khawatir dengan banyaknya huffadz (penghafal Alquran) yang meninggal, akan banyak ayat Alquran yang hilang. Kepada Umar, Khalifah Abu Bakar berkata, "Bagaimana saya akan melakukan sesuatu yang tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah SAW?" Dialog panjang pun tak terelakkan. Singkatnya, sang khalifah pun akhirnya menyetujui gagasan Umar, setelah khalifah merasa yakin atas ide positif Umar itu. Maka diputuskanlah Zaid bin Tsabit sebagai ketua tim pelaksana penghimpunan Alquran. Selain cerdas, amanah, dan jujur, Zaid juga dikenal sangat dekat dengan Rasulullah ketika masih hidup, sekaligus pencatat wahyu Nabi SAW setiap kali turun. Dasar itulah yang menjadikan Zaid dipilih para sahabat.
Ijtihad juga dilakukan Umar berkaitan dengan masalah santunan terhadap kaum mualaf (orang yang baru masuk Islam dan belum kuat imannya). Allah menyitir hal ini, "Sedekah hanya untuk kaum kafir dan miskin, para amil, orang-orang yang disejukkan hatinya (mualaf) ... (QS, 9:60). Demikian halnya Nabi menganjurkan hal tersebut. Alasan Nabi SAW antara lain, untuk menyejukkan hati dan memperkuat iman mereka. Tradisi demikian terus berlanjut hingga masa kekhalifahan Abu Bakar. Sebelum meninggal, Abu Bakar sempat memberi surat kepada Uyainah bin Hisn dan Aqra' bin Habis yang datang kepadanya guna meminta sebidang tanah.
Setelah Umar menjadi khalifah, kedua orang itu menghadap kepada Umar untuk mendapatkan haknya. Diajukan surat demikian, Umar bukan saja merobeknya, tapi sekaligus menolak permintaan itu. "Allah sudah memperkuat Islam dan tidak memerlukan kalian. Kalian tetap dalam Islam atau hanya pedang yang ada," jelas Umar. Golongan seperti inilah yang dulu pernah mendapat zakat, namun kini dihentikan dan mereka disamakan dengan kaum Muslimin lainnya.

Di bidang hukum, ijtihad yang dilakukan Umar tak kalah besar pengaruhnya. Bahkan hingga kini masih dirujuk kalangan fuqaha (ahli fikih). Yakni menolak melaksanakan hukuman karena keadaan darurat.

Soal hukum ini sudah jelas dinyatakan dalam Alquran, misalnya masalah pembunuhahn, zina, tuduhan palsu, dan perampokan. Firman Allah, ''... barang siapa tidak memutus perkara menurut apa yang diturunkan Allah, mereka itulah orang fasik." (QS 5:47).

Namun bagi Umar, hukum itu tak berlaku dan karenanya menghindari dengan catatan kondisi darurat, sebagaimana firman-Nya, "... jika dalam keadaan terpaksa bukan sengaja hendak melanggar atau mau melampaui batas, maka tidaklah ia berdosa.

Allah Maha Pengampun, Maha Pengasih." (QS 2:173). Contoh dalam soal ini adalah, seorang perempuan --yang mengadu kepada Umar-- telah kepayahan lantaran kehausan. Ketika sedang melalui seorang gembala, ia meminta diberi minum, tapi gembala itu menolak kecuali jika mau menyerahkan kehormatannya.

Semula, wanita itu menolak, tapi karena terpaksa, ia pun memberikannya. Umar berunding dengan Ali guna menjatuhkan hukum rajam. Namun Ali berkata, "Ini keadaan terpaksa, saya berpendapat lepaskan saja wanita itu." Umar pun membebaskannya.

Mengomentari sukses ijtihad Umar, Abu Yusuf, ulama di masa tabi'in, dalam kitabnya, Al Kharaaj, sebagaimana dikutip Muhammad Haekal dalam Al Faaruq Umar, mengatakan, "Merupakan keberhasilan yang diberikan Allah atas segala yang dilakukan Umar itulah yang terbaik yang telah diberikannya kepada kaum Muslimin."n hery


Sayidina Utsman bin Affan









Sayidina Utsman bin Affan
Khalifah yang Pemalu

Suatu ketika, istri Rasulullah, Aisyah Ra, bertanya pada Nabi SAW. Katanya, "Ya Rasulullah, engkau tidak bersiap bagi kedatangan Abu Bakar dan Umar bin Khathab sebagaimana kedatangan Utsman." Rasulullah menjawab, "Utsman seorang pemalu.

Kalau dia masuk sedang aku masih berbaring, dia pasti malu untuk masuk dan cepat-cepat akan pulang sebelum menyelesaikan hajatnya. Hai Aisyah, tidakkah aku patut malu kepada seseorang yang disegani (dimalui) oleh para malaikat?"

Betapa Hadis yang diriwayatkan Imam Ahmad itu mengajarkan kepada kita bahwa sifat malu penting dalam kehidupan sosial manusia. Nabi SAW dan sahabatnya, Utsman, meneladankan sifat malu akan sangat membantu manusia baik dalam interaksi sosial maupun dalam hubungan vertikalnya dengan Tuhannya.

Sejarah Islam mencatat, perjalanan Utsman yang lahir di Thaif, Arab Saudi, pada 576 Masehi atau enam tahun lebih muda dari Nabi Muhammad ini, tak selamanya linier dengan obsesinya semula. Utsman yang mendapat julukan Nabi SAW sebagai 'Zunnurrain' (memiliki dua cahaya) karena menikahi dua putri Rasulullah, yakni Ruqayyah dan Ummu Kultsum, mengalami proses spiritual yang sama dengan Abu Bakar, yakni masuk Islam setelah mengarungi perjalanan panjang kehidupan profannya.

Seperti halnya Abu Bakar dan Umar bin Khathab, Utsman masuk Islam setelah beberapa kali mendengarkan ajakan 'kebenaran' baik yang diserukan oleh Rasulullah maupun sahabatnya yang lebih dulu masuk Islam. Selain dikenal dekat dengan Rasulullah, pria bernama lengkap Utsman bin Affan Zunnurain ini juga tawadhu dan tegas pendirian.

Masyarakat mengenal Utsman sebagai dermawan. Dalam ekspedisi Tabuk yang dipimpin oleh Rasul, Utsman menyerahkan 950 ekor unta, 50 kuda, dan uang tunai 1.000 dinar.

Itu berarti sepertiga biaya ekspedisi ia tanggung sendiri. Pada masa pemerintahan Abu Bakar, Utsman juga pernah memberikan gandum yang diangkut dengan 1.000 unta untuk membantu kaum miskin yang menderita di musim kering itu.

Babak baru dalam kehidupannya ia alami ketika ia dipercaya menjadi khalifah Islam ketiga menggantikan Abu Bakar Ashiddiq. Jalan menuju kepemimpinan itu pun menyisakan cerita tak sedap tersendiri. Menjelang wafatnya, Umar bin Khattab berpesan. Selama tiga hari, imam masjid hendaknya diserahkan pada Suhaib Al-Rumi.

Namun pada hari keempat hendaknya telah dipilih seorang pemimpin penggantinya. Umar memberikan enam nama. Mereka adalah Ali bin Abu Thalib, Utsman bin Affan, Zubair bin Awwam, Saad bin Abi Waqas, Abdurrahman bin Auf dan Thalhah anak Ubaidillah.

Setelah bermusyawarah, kesemua sahabat mengundurkan diri, kecuali Utsman dan Ali bin Abi Thalib. Abdurrahman ditunjuk menjadi penentu. Ia menemui banyak orang meminta pendapat mereka. Namun pendapat masyarakat pun terbelah. Imar anak Yasir mengusulkan Ali.

Begitu pula Mikdad. Sedangkan Abdullah anak Abu Sarah berkampanye keras buat Utsman. Konon, sebagian besar warga memang cenderung memilih Utsman. Abdurrahman --yang juga sangat kaya-- pun memutuskan Utsman sebagai khalifah. Ali sempat protes. Abdurrahman adalah ipar Utsman. Mereka sama-sama keluarga Umayah.

Sedangkan Ali, sebagaimana Muhammad, adalah keluarga Hasyim. Sejak lama kedua keluarga itu bersaing. Namun Abdurrahman meyakinkan Ali bahwa keputusannya adalah murni dari nurani. Ali kemudian menerima keputusan itu. Jadilah Utsman khalifah ketiga di usia senja, 70 tahun. [Memerintah pada tahun 644-656].

Masa kekuasaan Utsman, sebagaimana diungkap dalam buku Seratus Muslim Terkemuka, berlangsung dalam dua periode, yakni 6 tahun pertama dan 6 tahun kedua. Pada fase 6 tahun pertama pemerintahan Utsman banyak mengalami berbagai keberhasilan dan kemajuan. Ini misalnya ditandai dengan makin luasnya ekspansi wilayah Islam. Untuk pertama kalinya, Islam juga mempunyai armada laut yang tangguh.

Muawiyah bin Abu Sofyan yang menguasai wilayah Syria, Palestina dan Libanon membangun armada itu. Sekitar 1.700 kapal dipakainya untuk mengembangkan wilayah ke pulau-pulau di Laut Tengah. Siprus, Pulau Rodhes digempur. Konstantinopel pun sempat dikepung.

Ustman juga membuat langkah penting bagi umat. Ia memperlebar bangunan Masjid Nabawi di Madinah dan Masjid Al-Haram di Mekkah. Ia juga menyelesaikan pengumpulan naskah Quran yang telah dirintis oleh kedua pendahulunya. Ia menunjuk empat pencatat Quran, Zaid bin Tsabit, Abdullah bin Zubair, Said bin Ash, dan Abdurrahman bin Harits, untuk memimpin sekelompok juru tulis. Kertas didatangkan dari Mesir dan Syria.

Tujuh Quran ditulisnya. Masing-masing dikirim ke Mekkah, Damaskus, San'a, Bahrain, Basrah, Kuffah, dan Madinah. Di masa Ustman, ekspedisi damai ke Tiongkok dilakukan. Saad bin Abi Waqqas bertemu dengan Kaisar Chiu Tang Su dan sempat bermukim di Kanton.

Sayangnya pada periode 6 tahun kedua, pemerintahan Utsman mengalami berbagai pergolakan dan ancaman disintegrasi. Pemicunya antara lain kebijakan Utsman yang dinilai berpihak pada keluarga kerajaan. Ia misalnya banyak mengangkat anggota keluarganya untuk menduduki posisi-posisi penting negara. Yang paling kontroversial adalah pengangkatan Marwan bin Hakam sebagai sekretaris negara. Banyak yang curiga, Marwan-lah yang sebenarnya memegang kendali kekuasaan di masa Utsman.

Sebagai gubernur Irak, Azerbaijan dan Armenia, Utsman mengangkat saudaranya seibu, Walid bin Ukbah menggantikan tokoh besar Saad bin Abi Waqas. Namun Walid tak mampu menjalankan pemerintahan secara baik. Ketidakpuasan menjalar ke seluruh masyarakat. Bersamaan dengan itu, muncul pula tokoh Abdullah bin Sabak. Dulu ia seorang Yahudi, tapi kemudian menjadi Muslim yang santun dan shalih. Ia memperoleh simpati dari banyak orang.

Abdullah berpendapat bahwa yang paling berhak menjadi pengganti Muhammad adalah Ali. Beberapa tokoh mendesak Utsman untuk mundur. Namun Utsman menolak. Ali mengingatkan Utsman untuk kembali ke garis Abu Bakar dan Umar. Utsman merasa tidak ada yang keliru dalam langkahnya.

Malah Marwan berdiri dan berseru siap mempertahankan kekhalifahan itu dengan pedang. Situasai tambah panas. Pada bulan Dzulqaidah 35 Hijriah atau 656 Masehi, 500 pasukan dari Mesir, 500 dari Basrah, dan 500 dari Kuffah bergerak. Mereka berdalih hendak menunaikan ibadah haji, namun ternyata mengepung Madinah.

Ketiganya bersatu mendesak Utsman yang ketika itu telah berusia 82 tahun untuk mundur. Rakyat Mesir mencalonkan Ali, Basrah mendukung Thalhah, dan Kuffah memilih Zubair untuk menjadi khalifah pengganti. Utsman membujuk Ali agar meyakinkan para pemberontak. Ali melakukannya asal Utsman tak lagi menuruti kata-kata Marwan.

Utsman bersedia. Atas saran Ali, para pemberontak itu pulang. Namun tiba- tiba Utsman, atas saran Marwan, mencabut janjinya. Massa marah. Pemberontak balik ke Madinah. Muhammad anak Abu Bakar siap mengayunkan pedang.

Namun tak jadi melakukannya setelah ditegur Utsman. Al Ghafiki menghantamkan besi ke kepala Utsman, sebelum Sudan anak Hamran menusukkan pedang. Pada tanggal 8 Dzulhijjah 35 Hijriah, Utsman menghembuskan nafas terakhirnya sambil memeluk Quran yang dibacanya. Sejak itu, kekuasaan Islam semakin sering diwarnai oleh tetesan darah.hery s/berbagai sumber

Menghimpun Mushaf Quran

Di bidang keagamaan, prestasi terbesar yang patut dicatat dari kepemimpinan Utsman bin Affan adalah keberhasilannya menghimpun ayat- ayat Alquran menjadi mushaf yang tetap dalam satu kitab. Ide menghimpun ayat-ayat Alquran yang saat itu berserakan di berbagai tempat dan dikhawatirkan hilang karena makin banyaknya para huffaz (orang-orang yang hafal Alquran) yang meninggal, memang bukan hal baru.

Jauh sebelumnya, yakni di masa Abu Bakar, pertama kali gagasan itu dimunculkan Umar bin Khathab. Pengerjaan pengumpulan dimulai dengan ketua tim langsung dipimpin Zait bin Tsabit, juga dikenal hafiz Quran dan sekretaris pencatat wahyu Rasulullah.

Dalam proses pembukuan Alquran itu, khalifah Utsman memberi nasihat agar mengambil pedoman kepada bacaan orang-orang yang hafal Alquran. Jika ada perselisihan di antara mereka dalam bacaannya, maka ayat-ayat tersebut harus ditulis menurut lahjah (dialek) suku Quraisy karena Alquran diturunkan menurut dialek mereka.

Setelah tugas selesai, Utsman mengembalikan lembaran-lembaran Alquran itu kepada Hafshah. Sementara Alquran yang telah dibukukan diberi nama "Al Mushaf". Satu disimpan Khalifah Utsman di Madinah, dan empat mushaf lainnya dikirim ke Mekkah, Syria, Basrah, dan Kuffah, agar di tempat-tempat tersebut segera disalin. Adapun mushaf yang berada di tangan Utsman dinamakan "Mushaf Al Imam".

Dari mushaf yang ditulis dan dihimpun di masa khalifah Utman itulah, kaum Muslimin di seluruh pelosok menyalin dan memperbanyak Alquran, termasuk hingga di masa modern kini --ejaan dan standar bacaan berasal dari masa kepemimpinan Utsman.

Atas jasa dan keberhasilannya itulah, Rasulullah dalam salah satu sabdanya menyatakan, bahwa Utman bin Affan termasuk dalam sepuluh orang yang dijamin Rasulullah langsu

Sayidina Ali bin Abi Thalib





Pria paruh baya itu bernama 'Ala bin Ziyad Al-Haritsi. Yang membedakannya dengan rakyat biasa adalah, ia saudagar kaya raya di masa kekhalifahan keempat, Ali bin Abi Thalib. Satu hari, dia mengundang Khalifah Ali berkunjung ke rumahnya. Sang khalifah memenuhi permintaan tersebut.

Sesampai di rumah pengundang, Amirul Mukminin terkagum melihat kemewahan rumah 'Ala. Ali yang istananya sangat sederhana itu mengomentari kemewahan tersebut: "Wahai 'Ala, apa untungnya memiliki rumah sebesar ini, padahal engkau memerlukan rumah yang lebih besar dan lebih mewah kelak di akhirat?"

Semula 'Ala menduga menantu Nabi SAW itu biasa hidup mewah di istana karena posisinya sebagai khalifah. Tapi sahabat Ali ternyata bukanlah 'orang dunia'. Kekuasaan yang digenggamnya tidak lebih dari sekadar sarana untuk beribadah kepada Allah. Ia menguasai dunia, tapi tidak dikuasai dunia. Perubahan terjadi pada diri 'Ala. Amirul Mukminin tahu betul ekspresi perubahan itu. Apalagi ia tahu bila 'Ala mendapatkan kekayaannya melalui jerih payahnya sendiri, bukan dari KKN.

Khalifah Ali lalu menyampaikan pesan: "Wahai 'Ala, engkau bisa menjadikan rumahmu yang besar ini sebagai kendaraan yang akan mengantarkanmu ke rumah yang lebih besar di akhirat kelak."
"Bagaimana caranya, wahai Amirul Mukminin?" respon 'Ala.
"Engkau buka rumahmu untuk para tamu yang menghajatkannya, ikat silaturrahim di antara kaum Muslimin, bela, dan tampakkan hak-hak kaum Muslimin di rumahmu, jadikan rumah ini sebagai tempat pemenuhan hajat saudara-saudara sesama Islam, dan jangan batasi hanya untuk kepentingan dan keserakahan dirimu semata."

***

Ali bin Abi Thalib merupakan khalifah terakhir (35-41 Hijriah/655-661 Masehi) dari kekuasaan Khulafaur Rasyidin (empat pemimpin terpilih pasca- Nabi SAW, yakni; Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman, dan Ali). Untuk kategori anak-anak (generasi muda), Ali dikenal sebagai yang pertama masuk Islam, serta Muslim kedua setelah Khadijah binti Khuwailid.

Dari segi nasab (keturunan), Ali masih sepupu Muhammad SAW dari garis bapak. Ayahnya, yakni Abu Thalib bin Abdul Muthalib bin Hasyim bin Abdul Manaf, adalah kakak kandung ayah Nabi SAW (Abdullah bin Abdul Muthalib). Sementara ibu bernama Fatimah binti As'ad bin Hasyim bin Abdul Manaf. Ketika lahir, ibunya memberi nama Haidarah, namun sang ayah kemudian menggantinya dengan Ali.

Ketika berusia 6 tahun, Ali diasuh oleh Nabi SAW, seperti halnya sang Nabi pernah diasuh orang tua Ali. Saat Muhammad diangkat menjadi Rasul, usia Ali baru 8 tahun. Sejak masuk Islam itu, ia tak pernah absen menyertai Nabi SAW menyebarkan risalah kedamaian dan keadilan. Tak heran bila kemudian Ali dikenal sangat dekat dengan Rasulullah. Kedekatan itu semakin erat dengan dinikahinya Fatimah Azzahra --salah seorang putri Nabi SAW yang kala itu berusia 15 tahun-- oleh Ali.

Dari pernikahan pertamanya ini, Ali dikaruniai dua putra dan dua putri: Hasan, Husein, Zainab, dan Ummu Kulsum. Anak terakhir, Ummu Kulsum, kelak menjadi istri Umar bin Khatthab, khalifah kedua. Keseluruhan anak Ali berjumlah 19 orang, dari sembilan kali pernikahannya.

Sejak kecil, Ali dikenal dengan kecerdasannya. Sampai-sampai Muhammad SAW memuji Ali dengan kalimat: "Saya adalah ibukota ilmu pengetahuan dan Ali adalah gerbangnya." Ali kecil juga sudah menunjukkan keberaniannya yang luar biasa. Ia misalnya, berani menantang tokoh-tokoh Quraisy yang mencemooh Muhammad SAW.

Ketika sang Nabi SAW ini hijrah dan kaum Quraisy menghunus pedang untuk membunuhnya, Ali tidur di tempat tidur Nabi Muhammad serta mengenakan mantel yang dipakai Rasul kala itu. Nabi pun selamat dari maut.

Di medan perang, dia dikenal sebagai panglima dan petempur yang sangat handal dan disegani. Peperangan Badar, Uhud, dan Khandaq, menjadi saksi keberanian seorang Ali. Namanya semakin sering dipuji setelah ia berhasil menjebol gerbang benteng Khaibar yang menjadi pertahanan terakhir Yahudi. Menjelang Rasul menunaikan haji, Ali ditugasi melaksanakan misi militer ke Yaman. Misi itu dilakukannya dengan baik.

Sebagai khalifah, ia mewarisi pemerintahan yang sangat kacau akibat krisis dan pembunuhan terhadap Utsman bin Affan, khalifah ketiga. Keluarga Umayah menguasai hampir semua kursi pemerintahan. Dari 20 gubernur, hanya gubernur Irak --Abu Musa Al-Asyari-- yang bukan keluarga Umayah.

Berbagai kalangan, di antaranya Aisyah, Zubair dan Thalhah, menuntut Ali mengadili pembunuh Utsman. Sebagian lainnya menuding Ali dekat dan enggan memproses pembunuh tersebut. Tapi Ali menyebut pengadilan sulit dilaksanakan sebelum situasi politik reda. Ia bermaksud menyatukan negara lebih dahulu. Untuk itu, ia mendesak Muawiyah bin Abu Sofyan -- gubernur Syam yang juga pemimpin keluarga Umayah-- segera berbaiat kepadanya.

Muawiyah menolak berbaiat sebelum pembunuh Ustman dihukum. Dianggap membangkang, Ali pun siap menggempur Muawiyah. Tak berapa lama, ia tinggalkan ibukota, Madinah, menuju Kuffah guna mengakhiri pembangkangan Muawiyah.

Langkah ini mengundang kritik kelompok Aisyah. Bersama Thalhah dan Zubair, Aisyah memimpin 30 ribu pasukan dari Mekkah. Pasukan Ali --yang semula diarahkan ke Syam-- terpaksa dibelokkan untuk menghadapi Aisyah. Perang sesama Muslim tak terhindarkan. Aisyah memimpin pasukannya dari tandu tertutup di atas unta. Banyak pasukan mengendarai unta.

Perang itu lalu dikenal dengan 'Perang Jamal' (Unta). Sekitar 10 ribu orang tewas dalam peperangan. Aisyah tertawan setelah tandunya penuh anak panah. Zubair tewas, dan Thalhah terluka.

Kesempatan pun dimanfaatkan Muawiyah. Ia menggantungkan jubah Utsman yang berlumur darah, serta potongan jari istri Ustman, di Masjid Damaskus untuk menyudutkan Ali. Kembali perang terjadi di Shiffin, hulu Sungai Eufrat di perbatasan Irak-Syria. Puluhan ribu Muslim tewas. Di pihak Ali, 35 ribu tewas, dan di pihak Muawiyah 45 ribu meninggal. Dalam keadaan terdesak, pihak Muawiyah bersiasat. Atas usulan Amru bin Ash, mereka mengikat Quran di ujung tombak dan mengajak untuk "berhukum pada Quran". Peristiwa ini terkenal dengan peristiwa 'tahkim'.

Pihak Ali terbelah. Sebagian setuju, sebagian lainnya menolak. Ali mengalah. Kedua pihak berunding. Amru bin Ash di pihak Muawiyah, dan Abu Musa --yang dikenal sebagai seorang shalih dan tak suka politik-- di pihak Ali. Keduanya sepakat "menurunkan" Ali dan Muawiyah.

Tapi Amru mengingkari kesepakatan. Situasi yang tak menentu itu membuat marah Hurkus, komandan pasukan Ali. Karena cara berpikirnya yang sempit, ia menilai Muawiyah maupun Ali melanggar hukum Allah. "Laa Hukma Illallah (tiada hukum selain Allah)," serunya. "Pelanggar hukum Allah boleh dibunuh," tegasnya.

Orang-orang menyebut kelompok radikal ini sebagai "Khawarij" (barisan yang keluar). Mereka menyerang dan bahkan membunuh orang-orang yang berbeda pendapat dengannya, termasuk Muawiyah, Amru bin Ash, dan Khalifah Ali.

"Pemerintahan Ali terlalu banyak dirongrong oleh perang saudara... Tapi ia juga berhasil menyusun arsip negara, menyelamatkan dokumen khalifah, membentuk kantor hajib (bendaharawan) dan kantor shahibus shurthoh (pasukan pengawal), serta mereorganisasi polisi dan menetapkan tugas- tugasnya," komentar Ameer Ali, sejarawan Arab. hery sucipto/berbagai sumber

Wasiat Imam Ali

Dua menantu Nabi SAW, Utsman bin Affan (khalifah ketiga), dan Ali bin Abi Thalib (khalifah keempat), memiliki keistimewaan tersendiri. Yang pertama seorang kaya raya tapi dermawan, dan lainnya, Ali, sederhana tapi tegas dan kaya ilmu. Sebutan Nabi SAW bahwa Ali Gerbang Ilmu, bukti pengakuan Rasulullah atas penguasaan ilmu Ali. Tak heran bila Ali juga dikenal ahli hukum dan mujtahid yang darinya selalu keluar pencerahan- pencerahan ilmiah dan spiritualitas.

Sebagai 'mata air' hikmah, Ali banyak mewasiatkan kepada umat Islam akan kehidupan, baik dalam memenuhi hajat profannya (material) maupun sakralnya (akhirati). Dalam satu kesempatan misalnya, ia bertutur soal hubungan manusia dengan Sang Khaliq. Katanya, "Barang siapa telah memperbaiki hubungannya dengan Allah, maka ia akan memperbaiki hubungannya dengan orang lain, dan barang siapa telah memperbaiki urusan akhiratnya, maka ia akan memperbaiki urusan dunianya."

Ali juga menganjurkan kita berpikir dan merenungkan kembali informasi yang kita terima. "Renungkanlah berita yang kau dengar secara baik-baik (dan jangan hanya menjadi penukil berita). Penukil ilmu sangatlah banyak dan perenungnya sangat sedikit."

Cobaan atau fitnah di masa Khalifah Ali tak kalah hebatnya dengan fitnah- fitnah saat ini. Agar tidak terjerumus dan terjebak dalam kubangan fitnah, kepada para sahabatnya Ali berpesan, "Ketika fitnah berkecamuk, jadikanlah dirimu seperti 'ibnu labun' (anak unta yang belum berumur dua tahun), karena ia masih belum memiliki punggung yang kuat untuk dapat ditunggangi dan tidak memiliki air susu untuk dapat diperah."

Begitu pun pandangannya soal manusia yang lemah. Di mata satu-satunya khalifah Islam yang bergelar "Imam" ini, orang lemah bukan mereka yang tak berdaya menghadapi lawan, tak berharta, atau tidak memiliki kedudukan. Tapi, "Orang yang paling lemah adalah mereka yang tidak dapat menjalin tali persahabatan dengan orang lain, dan lebih lemah darinya adalah orang yang mudah melepaskan persaudaraan dengan sahabatnya," ujar Ali, sebagaimana dinukil dalam Nahjul Balaghah.

Di bagian lain wasiatnya, Ali menegaskan, "Akan datang kepada manusia suatu masa yang tidak tertinggal dari Alquran kecuali tulisannya dan dari Islam kecuali namanya. Pada masa itu masjid-masjid dimakmurkan bangunannya sedangkan ia sendiri kosong dari hidayah, orang-orang yang menghuni dan memakmurkannya adalah yang paling jahat di muka bumi. Fitnah bersumber dari mereka dan segala kesalahan kembali kepada mereka.

Orang-orang korban fitnah dan telah bertaubat, akan dipaksa kembali dan orang-orang yang tertinggal di belakang (tidak ikut serta dalam kafilah fitnah) akan dirayu agar bergabung dengannya. Allah berfirman: 'Demi Dzat- Ku, akan Ku-kirim untuk mereka sebuah fitnah (cobaan) besar yang akan menjadikan orang-orang sabar bingung menentukan sikap.' Kita memohon kepada-Nya untuk mengampuni kealpaan yang membuat kita tergelincir."n her

 
Admin
Silahkan Pilih
Login