Alamat Majelis :
Jalan Syekh A Somad Lorong Kemartan 22 ilir Palembang
Belakang Universitas Bina Husada

Senin, 29 April 2013

Aminah Ibunda Nabi SAW


Aminah Ibunda Nabi
SEKUNTUM MAWAR DARI BANI ZUHRAH

Tak banyak sejarawan yang mengupas masa hidupnya, namun nama ini senantiasa semerbak bersama hembusan angin keindahan. Perjalanannya yang indah nan suci telah mengukir perubahan besar perputaran zaman. Siapa yang tak kenal Bani Hasyim; karena dari kabilah inilah Nabi SAW dilahirkan. Siapa pula yang tak kenal Bani Zuhrah; sebuah kabilah yang pernah menyimpan wanita suci dan mulia, karena dari rahimnya lahir sebuah cahaya agung yang membawa pembaharuan besar di dunia ini, Aminah binti Wahab Ibunda Rasululllah SAW.

Mungkin sulit untuk diketahui kapan dan bagaimana kelahiran serta kehidupan Sayidah Aminah sampai menjelang masa perkawinannya dengan Sayid Abdullah, karena para sejarawan tidak banyak menceritakan masalah ini. Namun yang jelas Wanita Arab waktu itu terbagi menjadi dua kelompok:

Kelompok pertama, adalah wanita yang dikenal oleh kaum pria dan mereka pun mengenal kaum pria. Wanita semacam ini biasanya mempunyai keahlian dalam beberapa pekerjaan dan mereka pulalah yang memberi semangat kaum lelaki di saat terjadi peperangan. Para pemuda yang menikah dengan wanita semacam ini biasanya disebabkan melihat dan mendengar secara langsung.

Kelompok kedua, adalah para wanita yang tidak dikenal oleh kaum pria dan mereka pun tidak mengenalnya selain kaum lelaki dari keluarga dekatnya sendiri. Para Pemuda Arab yang meminang wanita semacam ini disebabkan kemuliaan dan iffah-nya (kesucian). Wanita semacam ini senantiasa menerima pujian dan sanjungan di setiap masa.

Perumpamaan wanita semacam ini di mata manusia tak bisa disamakan, kecuali dengan mutiara yang tersimpan sehingga tidak sembarangan orang dapat mengotorinya. Tak seorang pun mampu mengusik kemuliaan dan iffahnya, dari wanita semacam inilah bunga mawar Bani Zuhrah Aminah binti Wahab.
Sebab Perkawinan Sayyidah

Para sejarawan dan ahli hadits telah meninggalkan kisah berharga tentang sebab musabab perkawinan Sayyidah Aminah dan Sayyid Abdullah. Ini telah membuktikan bahwa keluarga Abdul Muthalib tidak akan mengawinkan anaknya kecuali berdasarkan kemuliaan.

Ibnu Saad, Tabrani, dan Abu Naim meriwayatkan bahwa Abdul Muthalib bercerita: "Suatu saat kami sampai di negara Yaman saat perjalanan musim dingin, kami bertemu dengan seorang penganut kitab Zabur (Pendeta Yahudi) dia bertanya : "Kamu dari kabilah mana? Aku menjawab: "Dari Quraisy". Dari Quraisy mana? Kujawab: ?Bani Hasyim?. Kemudian Pendeta itu berkata: ?Bolehkah aku melihat salah satu anggota tubuhmu? ?Boleh saja asal bukan aurat?. Kemudian Pendeta itu melihat kedua tanganku dan berkata: "Aku bersaksi bahwa di salah satu tanganmu terdapat Malaikat dan tangan yang satunya terdapat kenabian, dan aku melihat hal ini pada Bani Zuhrah, bagaimana semua ini bisa terjadi?, aku menjawab: ?Tidak tahu?. Kemudian dia bertanya lagi: ?Apakah kamu mempunyai syaah??, ?Apa syaah itu?? tanyaku, ?Istri? jawabnya. ?Kalau sekarang aku tidak beristri?, ujar Abdul Muthalib, kemudian Pendeta itu berkata: "Kalau engkau pulang kawinlah dengan salah satu wanita dari mereka?. Setelah pulang ke Mekah Abdul Muthalib kawin dengan Hallah binti Uhaib bin Abdul Manaf. Dan mengawinkan anaknya Abdullah dengan Aminah binti Wahab. Setelah itu orang-orang Quraisy berkata: "Abdullah lebih beruntung dari Ayahnya?.

Baihaqi dan Abu Nuaim meriwayatkan dari Ibn Syihab, bahwa Abdullah bin Abdul Muthalib adalah lelaki yang tampan. Suatu saat dia keluar ke tempat wanita-wanita Quraisy, salah satu dari mereka berkata: "Apakah di antara kalian ada yang mau kawin dengan pemuda ini? sehingga nanti kejatuhan cahaya, karena aku melihat cahaya di antara kedua belah matanya?.

Zubair bin Bakar meriwayatkan, bahwa seorang para normal wanita yang bernama Saudah binti Zuhrah bin Kilab berkata pada orang-orang Bani Zuhrah: "Sesungguhnya di antara kalian terdapat seorang gadis yang akan melahirkan seorang Nabi, maka perlihatkanlah gadis-gadis kalian kepadaku". Kemudian para gadis Bani Zuhrah diperlihatkan satu persatu, hingga pada giliran Aminah, di saat dia melihat Aminah, Dia berkata: "Inilah wanita yang akan melahirkan seorang Nabi.

Demikianlah keadaan gadis Bani Zuhrah ini, dia hanya berada di dalam rumahnya, bergaul dengan keluarga dekatnya. Karena dia hanya merasakan ketentraman dan kedamaian dengan rasa malu dan sifat iffah yang dimilikinya.

Akhirnya timbul dalam ingatan Abdul Muthalib kejadian-kejadian yang dialami saat pergi ke Yaman tentang Bani Zuhrah. Maka timbullah niat mulianya. Maka dia bersama anaknya Abdullah bergegas menuju rumah keluarga Bani Zuhrah untuk menjalin kekeluargaan. Bagi keluarga Bani Zuhrah tidak ada alasan untuk menolak keinginan Abdul Muthalib, bahkan hal ini merupakan kehormatan baginya. Bani Zuhrah pun menerima lamaran Abdul Muthalib untuk menikahkan anaknya Abdullah dengan Aminah binti Wahab dan dia sendiri pun kawin dengan saudara sepupu Aminah yaitu Hajjaj binti Uhaib.
Rumah Baru Itu

Maka dapat dibayangkan betapa bahaginya penduduk Quraisy menyaksikan perkawinan indah dari dua keluarga mulia itu. Terutama kedua mempelai, terpancar dari keduanya wajah yang berseri-seri. Harapan masa depan cerah menyinari perasaan keduanya. Setelah dilangsungkan pesta pernikahan, Abdullah tinggal di rumah Aminah selama tiga hari sebagaimana kebiasaan orang Arab waktu itu. Kemudian dia pulang ke rumahnya untuk menyambut kedatangan sekuntum mawar dari Bani Zuhrah yang akan dibawa oleh keluarganya untuk menempati rumah barunya.

Rumah baru itu adalah rumah kecil dan sederhana yang disiapkan oleh Abdul Muthalib untuk anak kesayangannya. Para sejarawan menyebutkan bahwa rumah itu mempunyai satu kamar dan serambi yang panjangnya sekitar 12 meter serta lebar 6 meter yang di dinding sebelah kanan terdapat kayu yang disediakan sebagai tempat duduk mempelai.

Aminah melangkah menatap rumahnya dengan tatapan perpisahan namun hatinya bahagia diliputi harapan kehidupan baru. Kemudian dia berangkat bersama orang-orang yang mengantarnya, dengan mengenakan gaun pengantin Aminah dan rombongan disambut oleh keluarga Abdullah. Pengantar lelaki masuk dan berkumpul di serambi sedangkan pengantar wanita memasuki ruangan pengantin. Pesta meriah dan sederhana pun dilaksanakan. Setelah walimah ala kadarnya para pengantar dan penyambut membubarkan diri, maka tinggallah dua mempelai yang dipenuhi rasa damai dan bahagia dengan dipenuhi seribu harapan di masa depan.

Tidak lama dari masa perkawinannya yang indah, Aminah mendapatkan berita gembira kehamilan dirinya yang berbeda dengan wanita pada umumnya. Dia dapatkan berita itu melalui mimpi-mimpi yang menakjubkan, bahwa dia telah mengandung makhluk yang paling mulia.

Dalam satu riwayat yang diriwayatkan oleh Ibn Saad dan Baihaqi dari Ibn Ishak, dia berkata: Aku mendengar bahwa di saat Aminah hamil, ia berkata: ?Aku tidak merasa bahwa aku hamil dan aku tidak merasa berat sebagaimana dirasakan oleh wanita hamil lainnya, hanya saja aku tidak merasa haid dan ada seseorang yang datang kepadaku, ?apakah engkau merasa hamil?? Aku menjawab: tidak tahu. Kemudian orang itu berkata: ?Sesungguhnya engkau telah mengandung seorang pemuka dan Nabi dari umat ini, dan hal itu pada hari Senin, dan tandanya Dia akan keluar bersama cahaya yang memenuhi istana Basrah di negeri Syam, apabila sudah lahir berilah nama Muhammad?, Aminah berkata itulah yang mambuatku yakin kalau aku telah hamil. Kemudian aku tidak menghiraukannya lagi hingga di saat masa melahirkan dekat, dia datang lagi dan mengatakan kata-kata yang pernah aku utarakan. ?Aku memohon perlindungan untuknya kepada Dzat yang Maha Esa dari kejelekan orang yang dengki.?

Kemudian aku menceritakan semua itu kepada para wanita keluargaku, mereka berkata: ?Gantunglah besi di lengan dan lehermu?, kemudian aku mengerjakan perintah mereka, tidak lama besi itu putus dan setelah itu aku tidak memakainya lagi.
Sebelum Pacar Pengantin

Belum lama sepasang suami istri itu melalui hari-hari bahagianya dengan segala duka-cita, rasa cinta semakin menyatu, kini keduanya harus rela untuk berpisah, pasalnya: Abdul Muthalib telah menyiapkan sebuah kafilah yang harus dipimpin oleh anaknya yang baru kemarin merasakan manisnya kebahagian bersama istri untuk berniaga ke negeri Syam.

Tak ada alasan bagi pemuda seperti Abdullah untuk menolak perintah sang ayah yang sangat menyayanginya, meski hatinya tidak rela meninggalkan Aminah yang sedang hamil muda, terlebih lagi masa-masa itu adalah masa bulan madu bagi keduanya. Detik-detik perpisahan pun tiba, beberapa penduduk Quraisy telah bersiap-siap untuk berangkat, masing-masing dari mereka sibuk mengurusi barang dagangan yang akan dibawa, Bani Hasyim juga tak ketinggalan mempersiapkan segala keperluannya, namun di balik itu dua insan yang telah bersatu dalam kedamaian harus berpisah setelah mereguk madu kebahagiaan.

Semerbak wangi parfum pengantin masih tercium di rumahnya, jari-jemari tangan Aminah pun masih terlihat kemerah-merahan lantaran ukiran pacar masih ada di tangannya, tak ada yang tahu apa yang dilakukan dan dibicarakan keduanya, dalam detik-detik itu, tapi yang jelas keduanya harus rela merasakan pedihnya perpisahan setelah keindahan menyentuh sanubari mereka. Abdullah dengan langkah gontai tapi pasti keluar dari rumah sederhananya yang diikuti Aminah, di depan rumahnya Abdullah meninggalkan Aminah yang melepasnya dengan penuh harap, beberapa kalimat diucapkan untuk menenangkan hati di antara keduanya, padahal di balik itu keduanya tidak menyadari kalau itu adalah pertemuan terakhir.

Setelah Abdullah keluar dan bergabung dengan rombongannya tinggalah Aminah bersama dua orang wanita Bani Hasyim dan Bani Zuhrah yang rela menemaninya selama Abdullah belum pulang, keduanya memandang Aminah dengan pandangan iba, lantaran harus merasakan kesendirian, padahal keduanya tidak tahu masa depan Aminah.

Kisah kepergian Abdullah telah ditulis oleh para sejarawan. Ibnu Saad menceritakan; Abdullah bersama rombongan orang-orang Quraisy berangkat ke Syam untuk berniaga, setelah selesai berniaga mereka pulang melewati kota Madinah dan waktu itu Abdullah sakit kemudian Abdullah meminta agar meninggalkannya bersama kerabatnya dari Bani Najjar selama satu bulan, setelah rombongan sampai di Mekah Abdul Muthalib menanyakan keadaan Abdullah pada mereka, mereka menjawab: ?kami meninggalkannya bersama kerabat-kerabat Bani Najjar di Madinah karena dia sakit.

Setelah itu Abdul Muthalib mengutus anak tertuanya al-Harits untuk menjemputnya, setelah sampai di sana Abdullah sudah di kubur, mengetahui semua itu Abdul Muthalib dan seluruh keluarganya mengalami kesedihan yang luar biasa. Bukan hanya kesedihan karena kehilangan Abdullah yang mereka sayangi, namun lebih dari itu Abdullah telah meninggalkan kesedihan dalam jiwa seorang wanita Bani Zuhrah yang saat itu sedang hamil tua.

Tidak dapat dibayangkan Aminah, sebagai seorang istri yang baru merasakan kasih sayang seorang suami dan menunggu kelahiran buah hati pertamanya, Aminah sangat sedih dan merana dengan perpisahan yang tidak bisa harapkan lagi pertemuannya, tak dapat diungkapkan bagaimana kesedihan Aminah, seperti sejarah pun tidak sanggup mencatat kepiluannya kecuali dengan apa yang diungkapkan Aminah berupa bait-bait kesedihan.
Para Malaikat Bertahlil

Hari-hari Aminah lalui dengan kesedihan dan kesendirian, hanyalah Munajat pada sang Pencipta yang dia ucapkan dari bibir dan hatinya. Begitulah Aminah mengisi hari-hari menunggu kelahiran anaknya, tanpa kasih sayang seorang ayah, entah berapa tetes Air mata yang mengalir di wajah suci Aminah ketika dia mengingat calon bayinya tersebut.

Takdir Allah memang tidak bisa ditolak, ketentuannya tak bisa digugat, Maha Besar Allah dengan kehendak dan kekuasaannya yang menghendaki Manusia mulia dan suci keluar dari rahim Aminah. Detik-detik kelahiran anak Aminah ini sangat istimewa, betapa tidak! di malam itu Aminah didatangi wanita-wanita suci penghuni surga seperti Maryam dan Asyiah, dengan didampingi ribuan bidadari yang mengabarkan kepadanya, bahwa sebentar lagi akan keluar dari rahim sucinya seorang bayi mungil yang lucu nan suci, pemuka dari para Nabi dan kekasih Tuhan alam semesta.

Para Malaikat bertahlil dan bertasbih menyaksikan cahaya indah yang akan lahir di malam itu, maka lahirlah Rasulullah SAW dari rahim Aminah. Tak perlu diungkapkan bagaimana proses keagungan kelahiran Rasulullah secara mendetail, sebab para sejarawan telah menulis dengan panjang lebar kejadian ini, yang jelas Aminah sangat merasa bahagia dengan kelahiran anaknya ini, kepiluan, kesedihan, kesendirian dan kesepian kini telah sirna, yang ada hanyalah kebahagian dan kedamaian yang mengisi hari-hari Aminah setelah kelahiran anaknya. Kelahiran Rasulullah SAW bak setetes embun pagi yang menetes di sanubari Aminah. Bahkan bukan bagi Aminah saja namun bagi penghuni alam semesta. Betapa banyak makhluk Allah yang berharap merawat dan menatap wajahnya, para Malaikat dan bahkan hewan-hewanpun berebut untuk merawatnya. Namun takdir Allah menentukan hanyalah Aminah yang mendapat kemuliaan tersebut.

Hamid Jakfar Algadri

Rabu, 10 April 2013

Daftar Isi

Selasa, 09 April 2013

Berapa Lama Kita Dikubur?









Berapa Lama Kita Dikubur?

Semoga berguna . . . . . . .

Awan sedikit mendung, ketika kaki kaki kecil Yani berlari-lari gembira di atas jalanan Menyeberangi kawasan lampu merah Karet. Baju merahnya yang kebesaran melambai lambai di tiup angin. Tangan kanannya memegang es krim Sambil sesekali mengangkatnya ke mulutnya untuk dicicipi, sementara tangan kirinya mencengkram ikatan sabuk celana ayahnya. Yani dan ayahnya memasuki wilayah pemakaman umum Karet, berputar sejenak ke kanan dan kemudian duduk di atas seonggok nisan

"Hj Rajawali binti Muhammad 19-10-1905:20-01-1965"

"Nak, ini kubur nenekmu mari kita berdo'a untuk nenekmu" Yani melihat wajah ayahnya, lalu menirukan tangan ayahnya yang mengangkat ke atas dan ikut memejamkan mata seperti ayahnya. Ia mendengarkan ayahnya berdo'a untuk neneknya...

"Ayah, nenek waktu meninggal umur 50 tahun ya yah." Ayahnya mengangguk sembari tersenyum sembari memandang pusara Ibu-nya.

"Hmm, berarti nenek sudah meninggal 36 tahun ya yah..." kata Yani berlagak sambil matanya menerawang dan jarinya berhitung.

"Ya, nenekmu sudah di dalam kubur 36 tahun ... "  Yani memutar kepalanya, memandang sekeliling, banyak kuburan di sana. Di samping kuburan neneknya ada kuburan tua berlumut

"Muhammad Zaini : 19-02- 1882 : 30-01-1910"

"Hmm.. kalau yang itu sudah meninggal 91 tahun yang lalu ya yah" jarinya menunjuk nisan disamping kubur neneknya. Sekali lagi ayahnya mengangguk. Tangannya terangkat mengelus kepala anak satu-satunya.

"Memangnya kenapa ndhuk ?" kata sang ayah menatap teduh mata anaknya.

"Hmmm, ayah khan semalam bilang, bahwa kalau kita mati, lalu di kubur dan kita banyak dosanya, kita akan disiksa di neraka " kata Yani sambil meminta persetujuan ayahnya. "Iya kan yah?"

Ayahnya tersenyum, "Lalu?"

"Iya .. kalau nenek banyak dosanya, berarti nenek sudah disiksa 36 tahun dong yah di kubur? Kalau nenek banyak pahalanya, berarti sudah 36 tahun nenek senang di kubur .... ya nggak yah?"

Mata Yani berbinar karena bisa menjelaskan kepada ayahnya pendapatnya. Ayahnya tersenyum, namun sekilas tampak keningnya berkerut, tampaknya cemas .....

"Iya nak, kamu pintar," kata ayahnya pendek.

Pulang dari Pemakaman, ayah Yani tampak gelisah di atas sajadahnya, memikirkan apa yang dikatakan anaknya ... 36 tahun ... hingga sekarang ...kalau kiamat datang 100 tahun lagi ....136 tahun disiksa .. atau bahagia di kubur .... Lalu ia menunduk ... meneteskan air mata ... Kalau ia meninggal .. lalu banyak dosanya ... lalu kiamat masih 1000 tahun lagi berarti ia akan disiksa 1000 tahun? Innalillaahi wa inna ilaihi rooji'un ... air matanya semakin banyakmenetes.....Sanggupkah ia selama itu disiksa? Iya kalau kiamat 1000 tahun ke depan ..kalau 2000 tahun lagi ? Kalau 3000 tahun lagi? Selama itu ia akan disiksa di kubur .. lalu setelah dikubur? Bukankah akan lebih parah lagi? Tahankah? Padahal melihat adegan preman dipukuli massa ditelevisi kemarin ia sudah tak tahan?

Ya Allah ...ia semakin menunduk .. tangannya terangkat keatas..bahunya naik turun tak teratur.... air matanya semakin membanjiri jenggotnya ..... Allahumma as aluka khusnul khootimah berulang kali di bacanya doa itu hingga suaranya serak ... dan ia berhenti sejenak ketika terdengar batuk Yani.

Dihampirinya Yani yang tertidur di atas dipan bambu... dibetulkannya selimutnya. Yani terus tertidur ...tanpa tahu, betapa sang bapak sangat berterima kasih padanya karena telah menyadarkannya .. arti Sebuah kehidupan... dan apa yang akan datang di depannya...

Ustadz Abdul Basith Muhammad Abdus Shamad









Ustadz Abdul Basith Muhammad Abdus Shamad

a.Biografi
Ustadz Abdul Basith Muhammad Abdus Shamad dilahirkan pada tahun 1927 M. di sebuah desa yang bernama Al-Maza’izah yang terletak di kota Armant di propinsi Qana, Mesir selatan. Ia lahir di sebuah keluarga yang sangat memberikan perhatian khusus kepada Al Quran, baik dari segi Tajwid maupun menghafalkannya. Kakeknya yang bernama Ustadz Abdus Shamad adalah salah seorang penghafal Al Quran yang sangat menguasai ilmu Tajwid dan hukum-hukumnya. Kakeknya dari pihak ibu adalah seorang ’arif, guru agung dan memiliki keudukan yang terkenal di desanya. Julukannya adalah Abu Daud. Ayahnya yang bernama Muhammad adalah salah seorang guru kaliber menghafal dan ilmu Tajwid Al Quran. Ia memiliki dua saudara masing-masing bernama Mahmud dan Abdul Hamid. Mereka pernah belajar menghafal Al Quran di sebuah tempat pendidikan menghafal Al Quran yang bernama “Al-Maktab”. Abdul Basith kecil bergabung dengan saudara-saudaranya untuk menghafal Al Quran ketika ia masih berusia 6 tahun. Gurunya bernama Ustadz Amir. Ia menyambutnya dengan senang hati ketika ia melihat kemahirannya dalam bidang Al Quran. Hal ini dikarenakan lantunan-lantunan ayat-ayat suci di rumahnya siang dan malam ketika ia masih kecil. Gurunya melihat keistimewaan-keistimewaan yang ada pada diri Abdul Basith kecil yang tidak dimiliki oleh teman-teman sebayanya. Seperti menangkap pelajaran dengan cepat, kecerdasan, keinginannya yang kuat untuk meniru gurunya, kejituannya dalam mengucapkan huruf-huruf Arab dari tempat-tempatnya dan suaranya yang indah.

Ustadz Abdul Basith bercerita mengenai dirinya: “Usiaku baru 10 tahun ketika aku berhasil menyelesaikan hafalan Al Quran. Ayat-ayatnya keluar dari mulutku bak air sungai yang berjalan tenang. Ayahku adalah salah seorang pegawai di kementrian tranportasi dan kakekku adalah seorang ulama`. Aku pernah bertanya kepada kakekku mengenai aneka ragam bacaan Al Quran. Ia menyarankan kepadaku untuk pergi ke kota Thantha yang terletak di Mesir Utara demi mempelajari aneka ragam bacaan dan Ulumul Quran dari seorang guru yang bernama Ustadz Muhammad Salim. Jarak antara kota Armant yang terletak di Mesir Selatan dan kota Thantha yang terletak di Mesir Utara adalah sangat jauh. Akan tetapi, masalahnya menyangkut masa depanku. Akhirnya aku bersiap-siap untuk pergi. Sehari sebelum kepergianku, aku mendengar berita kedatangan Ustadz Muhammad Salim di kota Armant. Ia datang dengan tujuan untuk membentuk sebuah training pengajaran aneka ragam bacaan Al Quran di sebuah sekolah agama di kota tersebut. Para penduduk desa menyambutnya dengan hangat dan langsung mengelilinginya. Karena mereka tahu siapakah orang tersebut dan memahami kemampuannya dalam ilmu-ilmu Al Quran. Kedatangannya seakan-akan sebuah takdir yang datang kepada kami dalam waktu yang sangat tepat.

Akhirnya penduduk desa membentuk sebuah group yang siap untuk menghafalkan Al Quran. Ustadz Muhammad Salim mengajarkan Ulumul Quran, aneka ragam bacaan dan hafalan Al Quran kepada group tersebut.

Aku sendiri datang ke sana dan mengulangi hafalan Al Quran di hadapannya. Aku juga berhasil menghafal kitab Asy-Syaathibiyah yang memuat al-qiraa`aatus sab’ah (tujuh macam cara membaca Al Quran)”.

Setelah Ustadz Abdul Basith berusia 12 tahun, ia sering mendapat undangan dari desa dan kota-kota yang berada di propinsi Qana, khususnya dari group di atas (untuk mengisi acara-acara yang didirikan di kota dan desa-desa tersebut). Hal ini berkat pujian-pujian yang diucapkan oleh Ustadz Muhammad Salim berkenaan dengannya.

b.Berziarah ke Makam Sayidah Zainab a.s.
Pada tahun 1950 M., ia pergi berziarah ke makam-makam Ahlul Bayt dan anak cucu Rasulullah SAWW. Yang mendorongnya untuk mangadakan ziarah tersebut adalah sebuah peringatan yang diadakan dalam rangka kelahiran Sayidah Zainab a.s. Orang-orang yang berinisiatif untuk mengadakan peringatan tersebut adalah para qari` kaliber dunia yang aktif mengisi acara-acara di radio, seperti Ustadz Abdul Fattah Asy-Sya’sya’i, Ustadz Muthafa Ismail, Ustadz Abdul ‘Azhim Zahir, Ustadz Abul ‘Ainain Syu’aisya’ dan lain-lainnya. Setelah pertengahan malam berlalu di mana masjid Zainabiyah telah dipenuhi oleh para pencinta Ahlul Bayt a.s. yang datang dari berbagai penjuru, salah seorang kerabat dekat Abdul Basith minta izin dari panitia acara supaya pemuda belia itu mebaca qira`ah Al Quran selama 10 menit. Ia memberi izin dan Abdul Basith mulai membaca surah Al-Ahzab. Masjid mendadak sunyi dan semua pandangan tertuju kepada seorang pemuda belia yang berani duduk di sebuah tempat yang hanya diduduki oleh para qari` kaliber dunia. Akan tetapi, kesunyian itu tidak lama berlanjut. Karena tidak lama kemudian, kesunyian itu berubah menjadi teriakan-teriakan pujian seperti “Allahu Akbar” dan lain-lain yang mampu menggetarkan pilar-pilar masjid. Dari 10 menit yang telah disepakati berubah menjadi satu setengah jam.

c.Masuk ke Radio
Di akhir tahun 1951, Ustadz Dhabbaa’ meminta dari Abdul Basith untuk bersedia mengisi acara-acara di radio. Akan tetapi, karena hubungannya yang erat dengan masyarakat kota Sha’id dan radio memiliki program-program yang harus dijalankan dengan teratur, ia bersedia menerima tawaran tersebut di masa-masa mendatang. Secara diam-diam Ustadz Dhabbaa’ menyerahkan rekaman suara Abdul Basith yang direkam di acara peringatan kelahiran Sayidah Zainab di atas kepada tim juri radio. Mereka sangat tertarik dengan keindahan suara yang dimiliki olehnya.

Tahun 1951 adalah tahun masuknya Abdul Basith ke radio dan ia menjadi salah seorang qari` yang berhasil kala itu. Setelah ia banyak dikenal oleh masyarakat, ia terpaksa harus meninggalkan kota Sha’id bersama keluarganya menuju Kairo untuk berdomisili di sisi makam Sayidah Zainab, salah seorang putri Rasulullah SAWW itu. Karena putri itulah yang menyebabkannya terkenal dan masuk ke radio. Menurut pendapat jutaan masyarakat, ia adalah sebuah anugerah Ilahi kepada Islam dan muslimin.

Dengan masuknya Abdul Basith ke radio, banyak orang-orang yang bersedia membeli radio sehingga suaranya selalu terdengar di setiap rumah penduduk. Di daerah-daerah terpencil pun yang hanya memiliki radio terbatas, orang yang memiliki radio, selalu mengeraskan volume radionya sehingga para tetangga mendengarkan qira`ahnya.

d.Berkunjung ke Berbagai Negara
Pada tahun 1952, ia memulai kunjungan-kunjungannya ke berbagai negara di dunia, baik dalam rangka mengisi kegiatan-kegiatan di bulan Ramadhan maupun di luar bulan Ramadhan. Bahkan sering terjadi undangan yang datang kepadanya tidak untuk merayakan sebuah peringatan atau resepsi. Ketika para pengundang ini ditanya dalam rangka apa Ustadz Abdul Basith diundang, mereka menjawab: “Peringatan ini didirikan hanya karena beliau, (tidak karena acara khusus). Karena ketika beliau hadir dalam sebuah peringatan, peringatan itu akan didominasi oleh kebahagiaan khusus”.

Penyambutan atas Ustadz Abdul Basith tidak kalah dengan penyambutan tamu-tamu resmi negara. Presiden Pakistan datang ke bandara dalam rangka menyambut kedatangannya. Ia pernah melantunkan qira`ah di masjid terbesar di kota Jakarta. Masjid itu dipenuhi oleh hadirin yang berjejal di dalamnya. Taman yang berada di depan masjid dipenuhi oleh para hadirin yang berjumlah 250 ribu orang. Barisan-barisan hadirin di sekitar masjid memanjang hingga jarak 1 km. Hal ini mereka lakukan hingga pagi hari dalam kindisi berdiri.

Ia tidak hanya mengadakan kunjungan ke negara-negara Islam dan Arab. Bahkan seluruh penjuru dunia telah ia kunjungi sehingga ia dapat memahami kondisi muslimin di sana.

Di antara masjid-masjid terkenal yang pernah dikunjunginya dan ia membaca qira`ah di situ adalah Masjidil Haram, Masjid Nabawi, Masjidil Aqsha, masjid Ibrahimi di Palestina, masjid Umawi di Damaskus, dan masjid-masjid yang terkenal di Asia, Afrika, Amerika, Perancis, London, India dan berbagai negara lainnya. Dalam setiap kunjungannya ini, foto dan tulisan-tulisan yang menyoroti kehidupannya selalu dimuat oleh media-media massa resmi maupun non-resmi.

e.Sakit dan Wafat
Penyakit gula yang diidapnya bertambah parah. Ia berusaha untuk memerangi penyakit tersebut dengan memakan segala macam makanan dan minuman. Akan tetapi, dengan semakin parahnya penyakit jantung yang menyerangnya, ia akhirnya menyerah di hadapan dua penyakit tersebut. Ia dibawa ke rumah sakit Dr. Badran di kota Jizah, Mesir. Para dokter menyarankan kepadanya untuk berobat ke London. Akhirnya, ia pergi ke sana. Dan selama satu minggu tinggal di sana, ia meminta kepada putra yang mendampinginya, Ibnu Thariq, untuk membawanya pulang ke Mesir. Ia sepertinya sudah merasa bahwa hidupnya sudah berakhir. Hari wafatnya bak halilintar menyambar hati jutaan muslimin yang salut kepadanya. Dalam tasyyi’ jenazahnya, semua duta besar negara-negara dunia ikut hadir sebagai wakil rakyat mereka dalam mengucapkan belasungkawa terakhir.

Karena Abdul Basith adalah salah satu faktor yang menyebabkan adanya korelasi erat antara muslimin dunia, tanggal 30 Februari dijadikan sebagai tahun penghormatan atas qari` besar ini guna mengenang kembali peristiwa yang terjadi pada tanggal 30 November 1988, hari wafatnya seorang qari` kaliber dunia yang bernama Ustadz Abdul Basith Muhammad Abdus Shamad.

Syeikh Abdus Shamad Al Palimbani









Syeikh Abdus Shamad Al Palimbani
Mengendalikan Perjuangan Dari Mekkah
Penulis : Hery Sucipto

Dalam percaturan intelektualisme Islam Nusantara --atau biasa juga disebut dunia Melayu-- khususnya di era abad 18 M, peran dan kiprah Syeikh Abdus Shamad Al-Palimbani tak bisa dianggap kecil. Syeikh Al-Palimbani, demikian biasa ia disebut banyak kalangan, merupakan salah satu kunci pembuka dan pelopor perkembangan intelektualisme Nusantara. Ketokohannya melengkapi nama-nama ulama dan intelektual berpengaruh seangkatannya semisal Al-Raniri, Al-Banjari, Hamzah Fansuri, Yusuf Al-Maqassari, dan masih banyak lainnya.

Dalam deretan nama-nama tersebut itulah, posisi Syeikh Al-Palimbani menjadi amat sentral berkaitan dengan dinamika Islam. Malah, sebagian sejarahwan, seperti Azyumardi Azra, menilai Al-Palimbani sebagai sosok yang memiliki kontribusi penting bagi pertumbuhan Islam di dunia Melayu. Ia bahkan juga bersaham besar bagi nama Islam di Nusantara berkaitan kiprah dan kontribusi intelektualitasnya di dunia Arab, khususnya semasa ia menimba ilmu di Mekkah.

Syeikh Abdus Shamad Al-Palimbani dilahirkan pada 1116 H/1704 M, di Palembang. Tentang nama lengkap Syeikh Al-Palimbani, sejauh yang tercatat dalam sejarah, ada tiga versi nama. Yang pertama, seperti dilansir Ensiklopedia Islam, ia bernama lengkap Abdus Shamad Al-Jawi Al-Palimbani. Versi kedua, merujuk pada sumber-sumber Melayu, sebagaimana dikutip Azyumardi Azra dalam bukunya Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII (Mizan: 1994), ulama besar ini memiliki nama asli Abdus Shamad bin Abdullah Al-Jawi Al-Palimbani. Sementara versi terakhir, tulis Rektor UIN Jakarta itu, bahwa bila merujuk pada sumber-sumber Arab, maka Syeikh Al-Palimbani bernama lengkap Sayyid Abdus Al-Shamad bin Abdurrahman Al-Jawi. Mana dari ketiga nama itu yang diyakini sebagai nama Abdus Shamad, Azyumardi berpendapat bahwa nama terakhirlah yang disebut Syeikh Abdus Shamad.

Kesimpangsiuran nama ulama ini dapat dimaklumi mengingat sejarah panjangnya berpetualang, baik di dalam negeri maupun luar negeri, dalam menuntut ilmu. Bila ditilik latar belakang, potret Al-Palimbani sebenarnya tak jauh beda dengan ulama-ulama Nusantara lainnya, seperti Hamzah Fansur, Al-Raniri, Al-Singkili, Yusuf Al-Maqassari, hingga para ulama generasi pelanjut, semisal KH Ahmad Dahlan dan KH Hasyim Asy'ari.

Dari silsilah, nasab Syeikh Al-Palimbani masih keturunan Arab, yakni dari jalur ayah. Syeikh Abdul Jalil bin Syeikh Abdul Wahhab bin Syeikh Ahmad Al-Mahdani, ayah Al-Palimbani, adalah ulama asal Yaman yang diangkat menjadi Mufti negeri Kedah pada awal abad ke-18. Sementara ibunya, Radin Ranti, adalah wanita Palembang yang diperistri Sheikh Abdul Jalil, setelah sebelumnya sempat menikahi Wan Zainab, putri Dato' Sri Maharaja Dewa di Kedah.

Seperti lazimnya anak-anak kecil di masa itu, Syeikh Al-Palimbani menerima pengajaran agama dari orang tuanya, selain beberapa guru di kampungnya yang sempat membimbing dirinya. Minatnya terhadap ilmu-ilmu keagamaan telah terlihat sejak usia dini. Ia misalnya tercatat mendalami ilmu tasawuf dengan mendalami kitab At-Tuhfah Al-Mursalah (Anugerah yang Diberikan) dari salah seorang gurunya, Syeikh Abdul Rahman bin Abdul Aziz Al-Maghribi.

Ia juga mempelajari ilmu Suluk dari Syeikh Muhammad bin Samman, selain mendalami kitab-kitab tasawuf dari Syeikh Abdur Rauf Al-Sinkili dan Samsuddin Al-Sumaterani, keduanya dari Aceh. Selain di kampung halamannya, Syeikh Al-Palimbani juga mendapatkan pendidikan agama di daerah Kedah dan Patani (Thailand Selatan). Karena sedari kecil lebih banyak mempelajari ilmu tasawuf, sejarah kemudian mencatat dirinya sebagai ulama yang memiliki spesialisasi dalam cabang ilmu tersebut.

Merasa kurang puas dengan ilmu yang dicapainya, orang tua Al-Palimbani kemudian mengirim anaknya itu ke tanah Suci, Haramayn, Mekkah, dan Madinah. Tidak jelas, kapan ia dikirim ke salah satu pusat ilmu Islam di kala itu. Sejauh yang terekam oleh sejarah, ia diperkirakan menginjak dewasa ketika 'hijrah' ke Arabia tersebut. Di negeri barunya ini, ia terlibat dalam komunitas orang-orang Jawa, dan menjadi kawan seperguruan menuntut ilmu dengan ulama Nusantara lainnya. Misalnya, Muhammad Arsyad Al-Banjari, Abdul Wahhab Bugis, Abdul Rahman Al-Batawi, dan Dawud Al-Fatani. Meski ia menetap di Mekkah, tak berarti ia melupakan negri leluhurnya. Syeikh Al-Palimbani, catat Azyumardi, tetap memberikan perhatian besar pada perkembangan sosial, politik, dan keagamaan di Nusantara.

Sejak kepindahannya di Haramayn ini, Syeikh Al-Palimbani mengalami perubahan signifikan berkaitan dengan intelektualitas dan spiritualitas. Perkembangan dan perubahan ini tidak lepas dari proses pencerahan yang diberikan para gurunya. Beberapa gurunya yang masyhur dan berandil besar dalam proses tersebut, antara lain Muhammad bin Abdul Karim Al-Sammani, Muhammad bin Sulayman Al-Kurdi, dan Abdul Al-Mun'im Al-Damanhuri. Selain itu, juga tercatat pernah mengajar Al-Palimbani, semisal ulama besar Ibrahim Al-Rais, Muhammad Murad, Muhammad Al-Jawhari, dan Athaullah Al-Mashri. Tidak sia-sia, perjuangannya menuntut ilmu di Masjidil Haram dan tempat-tempat lainnya, mengantarkan dirinya menjadi salah seorang ulama Nusantara yang disegani dan dihormati kalangan ulama Arab, juga Nusantara.

Meski mendalami tasawuf, tak berarti Syeikh Al-Palimbani tidak kritis. Ia tercatat kerap mengkritik kalangan yang mempraktikkan tarekat secara berlebihan. Tak henti-hentinya, ia selalu mengingatkan bahaya kesesatan yang diakibatkan oleh aliran-aliran tarekat tersebut, khususnya tarekat Wujudiyah Mulhid yang terbukti telah membawa banyak kesesatan di Aceh. Ia memang tak berhenti pada kritik semata. Untuk mencegah apa yang diperingatkannya itu, Syeikh Al-Palimbani menyarikan dua kitab karangan ulama dan filosof besar abad pertengahan, Imam Al-Ghazali, yakni kitab Lubab Ihya' Ulumud Diin (Intisari Ihya' Ulumud Diin), dan Bidayah Al-Hidayah (Awal bagi suatu hidayah). Dua karya Imam Al-Ghazali ini dinilainya moderat dan membantu membimbing mereka yang mempraktikkan aliran tarekat sufiyah.

Berkaitan dengan ajaran tasawufnya, Syeikh Al-Palimbani dinilai mengambil jalan tengah antara doktrin tasawuf Imam Al-Ghazali dan ajaran wihdatul wujud-nya Ibnu 'Arabi; bahwa manusia sempurna (insan kamil) adalah manusia yang memandang Hakikat Yang Maha Esa itu dalam fenomena alam yang serba ganda dengan tingkat makrifat tertinggi, sehingga mampu melihat Allah SWT sebagai esensi mutlak.

Selain itu, Syeikh Al-Palimbani juga mengajarkan ajaran-ajaran tarekat Al-Khawatiyah Al-Sammaniyah, yang menempatkan guru tarekat tidak saja sebagai pembimbing kerohanian, tapi juga sebagai penghubung antara murid dan Tuhan, bila ingin dikenal secara langsung. Di Indonesia sendiri, pengaruh Al-Palimbani dinilai cukup besar, khususnya berkaitan dengan ajaran tasawuf. Petualangan panjangnya baru berakhir pada 1788, ketika Sang Khaliq memanggilnya untuk selama-lamanya, dalam usia senja.


Ulama Produktif dengan Sejumlah Karya

Tak disangkal lagi, peranan penting Syeikh Abdus Shamad Al-Palimbani dalam percaturan perkembangan Islam di Nusantara bukan lantaran keterlibatannya dalam komunitas jaringan ulama. Namun, lebih karena tulisan-tulisan Syeikh Al-Palimbani yang banyak dibaca pelbagai kalangan di wilayah Melayu-Indonesia, dan sebagian di dunia Arab, hingga saat ini.

Bila dicermati, karya-karya Al-Palimbani menyebarkan bukan saja ajaran-ajaran neosufisme, tetapi juga secara proaktif menekankan kepada umat Islam akan pentingnya melancarkan jihad. Yakni, melawan kaum kolonialis Eropa, terutama Belanda, yang kala itu secara terus menerus melakukan upaya-upaya menundukkan seluruh entitas politik Muslim di bumi Nusantara.

Dalam konteks ini, Syeikh Al-Palimbani menulis buku Nasihah Al-Muslimin wa Tazkirah al-Mukminin Fi Fadail Jihad Fi Sabilillah wa Karamah al-Mujahidin (Nasihat bagi kaum muslimin dan peringatan bagi kaum mukminin mengenai keutamaan Jihad di jalan Allah SWT). Tak syak lagi, seruan jihadnya, sebagaimana tertuang dalam karyanya tersebut, sampai kepada kaum muslimin internasional.

Latar belakang Syeikh Al-Palimbani menulis buku tersebut antara lain dilandasi keprihatinanya atas nasib dunia Islam yang kala itu tengah dalam cengkeraman kolonial Eropa. Karyanya itu memang dinilai berbobot. Bahkan pahlawan nasional Tengku Cik Di Tiro, penulis buku Hikayat Perang Sabil juga mengutip karya Al-Palimbani tersebut.

Karya lainnya yang tercatat monumental adalah dalam kaitan keimanan dan ketauhidan. Di bidang ini ia menulis Tuhfat Ar-Raghibiin Fi Bayan Haqiqah Iman Al-Mukminin wa maa Yufsiduh Fi Riddah Al-Murtadiin. Buku yang membahas tentang hakikat iman orang-orang mukmin dan hal-hal yang merusaknya lantaran kemurtadan ini ditulis pada 1774. Buku ini ia tulis atas permintaan Sultan Najmuddin, sultan Palembang. Syeikh Al-Palimbani juga menulis kitab Sayr Al-Salikin Ila Ibadah Rabb Al-Alamin, yang dikenal sangat berbobot itu.

Tak hanya itu, Syeikh Al-Palimbani juga menulis buku dalam bahasa Melayu, antara lain; Zuhrad Al-Murid Fi Bayan Al-Kalimah Tauhid (tentang persoalan logika dan teologi, yang ditulis di Mekkah pada 1764 M), Al-Urwah Wusqa wa Silsilah Uli Al-Ittiqa (tentang wirid, berbahasa Arab), Hidayah As Salikin Fi Suluk Maslak Al-Muttaqin (Petunjuk jalan bagi orang yang ingin mencapai tingkat Taqwa, berbahasa Melayu), yang ditulis di Mekkah pada 1778, serta buku Ratib Abdus Shamad (mengenai ratib, yakni zikir, pujian, dan seterusnya). her

 
Admin
Silahkan Pilih
Login