Alamat Majelis :
Jalan Syekh A Somad Lorong Kemartan 22 ilir Palembang
Belakang Universitas Bina Husada

Rabu, 10 April 2013

Daftar Isi

Selasa, 09 April 2013

Berapa Lama Kita Dikubur?









Berapa Lama Kita Dikubur?

Semoga berguna . . . . . . .

Awan sedikit mendung, ketika kaki kaki kecil Yani berlari-lari gembira di atas jalanan Menyeberangi kawasan lampu merah Karet. Baju merahnya yang kebesaran melambai lambai di tiup angin. Tangan kanannya memegang es krim Sambil sesekali mengangkatnya ke mulutnya untuk dicicipi, sementara tangan kirinya mencengkram ikatan sabuk celana ayahnya. Yani dan ayahnya memasuki wilayah pemakaman umum Karet, berputar sejenak ke kanan dan kemudian duduk di atas seonggok nisan

"Hj Rajawali binti Muhammad 19-10-1905:20-01-1965"

"Nak, ini kubur nenekmu mari kita berdo'a untuk nenekmu" Yani melihat wajah ayahnya, lalu menirukan tangan ayahnya yang mengangkat ke atas dan ikut memejamkan mata seperti ayahnya. Ia mendengarkan ayahnya berdo'a untuk neneknya...

"Ayah, nenek waktu meninggal umur 50 tahun ya yah." Ayahnya mengangguk sembari tersenyum sembari memandang pusara Ibu-nya.

"Hmm, berarti nenek sudah meninggal 36 tahun ya yah..." kata Yani berlagak sambil matanya menerawang dan jarinya berhitung.

"Ya, nenekmu sudah di dalam kubur 36 tahun ... "  Yani memutar kepalanya, memandang sekeliling, banyak kuburan di sana. Di samping kuburan neneknya ada kuburan tua berlumut

"Muhammad Zaini : 19-02- 1882 : 30-01-1910"

"Hmm.. kalau yang itu sudah meninggal 91 tahun yang lalu ya yah" jarinya menunjuk nisan disamping kubur neneknya. Sekali lagi ayahnya mengangguk. Tangannya terangkat mengelus kepala anak satu-satunya.

"Memangnya kenapa ndhuk ?" kata sang ayah menatap teduh mata anaknya.

"Hmmm, ayah khan semalam bilang, bahwa kalau kita mati, lalu di kubur dan kita banyak dosanya, kita akan disiksa di neraka " kata Yani sambil meminta persetujuan ayahnya. "Iya kan yah?"

Ayahnya tersenyum, "Lalu?"

"Iya .. kalau nenek banyak dosanya, berarti nenek sudah disiksa 36 tahun dong yah di kubur? Kalau nenek banyak pahalanya, berarti sudah 36 tahun nenek senang di kubur .... ya nggak yah?"

Mata Yani berbinar karena bisa menjelaskan kepada ayahnya pendapatnya. Ayahnya tersenyum, namun sekilas tampak keningnya berkerut, tampaknya cemas .....

"Iya nak, kamu pintar," kata ayahnya pendek.

Pulang dari Pemakaman, ayah Yani tampak gelisah di atas sajadahnya, memikirkan apa yang dikatakan anaknya ... 36 tahun ... hingga sekarang ...kalau kiamat datang 100 tahun lagi ....136 tahun disiksa .. atau bahagia di kubur .... Lalu ia menunduk ... meneteskan air mata ... Kalau ia meninggal .. lalu banyak dosanya ... lalu kiamat masih 1000 tahun lagi berarti ia akan disiksa 1000 tahun? Innalillaahi wa inna ilaihi rooji'un ... air matanya semakin banyakmenetes.....Sanggupkah ia selama itu disiksa? Iya kalau kiamat 1000 tahun ke depan ..kalau 2000 tahun lagi ? Kalau 3000 tahun lagi? Selama itu ia akan disiksa di kubur .. lalu setelah dikubur? Bukankah akan lebih parah lagi? Tahankah? Padahal melihat adegan preman dipukuli massa ditelevisi kemarin ia sudah tak tahan?

Ya Allah ...ia semakin menunduk .. tangannya terangkat keatas..bahunya naik turun tak teratur.... air matanya semakin membanjiri jenggotnya ..... Allahumma as aluka khusnul khootimah berulang kali di bacanya doa itu hingga suaranya serak ... dan ia berhenti sejenak ketika terdengar batuk Yani.

Dihampirinya Yani yang tertidur di atas dipan bambu... dibetulkannya selimutnya. Yani terus tertidur ...tanpa tahu, betapa sang bapak sangat berterima kasih padanya karena telah menyadarkannya .. arti Sebuah kehidupan... dan apa yang akan datang di depannya...

Ustadz Abdul Basith Muhammad Abdus Shamad









Ustadz Abdul Basith Muhammad Abdus Shamad

a.Biografi
Ustadz Abdul Basith Muhammad Abdus Shamad dilahirkan pada tahun 1927 M. di sebuah desa yang bernama Al-Maza’izah yang terletak di kota Armant di propinsi Qana, Mesir selatan. Ia lahir di sebuah keluarga yang sangat memberikan perhatian khusus kepada Al Quran, baik dari segi Tajwid maupun menghafalkannya. Kakeknya yang bernama Ustadz Abdus Shamad adalah salah seorang penghafal Al Quran yang sangat menguasai ilmu Tajwid dan hukum-hukumnya. Kakeknya dari pihak ibu adalah seorang ’arif, guru agung dan memiliki keudukan yang terkenal di desanya. Julukannya adalah Abu Daud. Ayahnya yang bernama Muhammad adalah salah seorang guru kaliber menghafal dan ilmu Tajwid Al Quran. Ia memiliki dua saudara masing-masing bernama Mahmud dan Abdul Hamid. Mereka pernah belajar menghafal Al Quran di sebuah tempat pendidikan menghafal Al Quran yang bernama “Al-Maktab”. Abdul Basith kecil bergabung dengan saudara-saudaranya untuk menghafal Al Quran ketika ia masih berusia 6 tahun. Gurunya bernama Ustadz Amir. Ia menyambutnya dengan senang hati ketika ia melihat kemahirannya dalam bidang Al Quran. Hal ini dikarenakan lantunan-lantunan ayat-ayat suci di rumahnya siang dan malam ketika ia masih kecil. Gurunya melihat keistimewaan-keistimewaan yang ada pada diri Abdul Basith kecil yang tidak dimiliki oleh teman-teman sebayanya. Seperti menangkap pelajaran dengan cepat, kecerdasan, keinginannya yang kuat untuk meniru gurunya, kejituannya dalam mengucapkan huruf-huruf Arab dari tempat-tempatnya dan suaranya yang indah.

Ustadz Abdul Basith bercerita mengenai dirinya: “Usiaku baru 10 tahun ketika aku berhasil menyelesaikan hafalan Al Quran. Ayat-ayatnya keluar dari mulutku bak air sungai yang berjalan tenang. Ayahku adalah salah seorang pegawai di kementrian tranportasi dan kakekku adalah seorang ulama`. Aku pernah bertanya kepada kakekku mengenai aneka ragam bacaan Al Quran. Ia menyarankan kepadaku untuk pergi ke kota Thantha yang terletak di Mesir Utara demi mempelajari aneka ragam bacaan dan Ulumul Quran dari seorang guru yang bernama Ustadz Muhammad Salim. Jarak antara kota Armant yang terletak di Mesir Selatan dan kota Thantha yang terletak di Mesir Utara adalah sangat jauh. Akan tetapi, masalahnya menyangkut masa depanku. Akhirnya aku bersiap-siap untuk pergi. Sehari sebelum kepergianku, aku mendengar berita kedatangan Ustadz Muhammad Salim di kota Armant. Ia datang dengan tujuan untuk membentuk sebuah training pengajaran aneka ragam bacaan Al Quran di sebuah sekolah agama di kota tersebut. Para penduduk desa menyambutnya dengan hangat dan langsung mengelilinginya. Karena mereka tahu siapakah orang tersebut dan memahami kemampuannya dalam ilmu-ilmu Al Quran. Kedatangannya seakan-akan sebuah takdir yang datang kepada kami dalam waktu yang sangat tepat.

Akhirnya penduduk desa membentuk sebuah group yang siap untuk menghafalkan Al Quran. Ustadz Muhammad Salim mengajarkan Ulumul Quran, aneka ragam bacaan dan hafalan Al Quran kepada group tersebut.

Aku sendiri datang ke sana dan mengulangi hafalan Al Quran di hadapannya. Aku juga berhasil menghafal kitab Asy-Syaathibiyah yang memuat al-qiraa`aatus sab’ah (tujuh macam cara membaca Al Quran)”.

Setelah Ustadz Abdul Basith berusia 12 tahun, ia sering mendapat undangan dari desa dan kota-kota yang berada di propinsi Qana, khususnya dari group di atas (untuk mengisi acara-acara yang didirikan di kota dan desa-desa tersebut). Hal ini berkat pujian-pujian yang diucapkan oleh Ustadz Muhammad Salim berkenaan dengannya.

b.Berziarah ke Makam Sayidah Zainab a.s.
Pada tahun 1950 M., ia pergi berziarah ke makam-makam Ahlul Bayt dan anak cucu Rasulullah SAWW. Yang mendorongnya untuk mangadakan ziarah tersebut adalah sebuah peringatan yang diadakan dalam rangka kelahiran Sayidah Zainab a.s. Orang-orang yang berinisiatif untuk mengadakan peringatan tersebut adalah para qari` kaliber dunia yang aktif mengisi acara-acara di radio, seperti Ustadz Abdul Fattah Asy-Sya’sya’i, Ustadz Muthafa Ismail, Ustadz Abdul ‘Azhim Zahir, Ustadz Abul ‘Ainain Syu’aisya’ dan lain-lainnya. Setelah pertengahan malam berlalu di mana masjid Zainabiyah telah dipenuhi oleh para pencinta Ahlul Bayt a.s. yang datang dari berbagai penjuru, salah seorang kerabat dekat Abdul Basith minta izin dari panitia acara supaya pemuda belia itu mebaca qira`ah Al Quran selama 10 menit. Ia memberi izin dan Abdul Basith mulai membaca surah Al-Ahzab. Masjid mendadak sunyi dan semua pandangan tertuju kepada seorang pemuda belia yang berani duduk di sebuah tempat yang hanya diduduki oleh para qari` kaliber dunia. Akan tetapi, kesunyian itu tidak lama berlanjut. Karena tidak lama kemudian, kesunyian itu berubah menjadi teriakan-teriakan pujian seperti “Allahu Akbar” dan lain-lain yang mampu menggetarkan pilar-pilar masjid. Dari 10 menit yang telah disepakati berubah menjadi satu setengah jam.

c.Masuk ke Radio
Di akhir tahun 1951, Ustadz Dhabbaa’ meminta dari Abdul Basith untuk bersedia mengisi acara-acara di radio. Akan tetapi, karena hubungannya yang erat dengan masyarakat kota Sha’id dan radio memiliki program-program yang harus dijalankan dengan teratur, ia bersedia menerima tawaran tersebut di masa-masa mendatang. Secara diam-diam Ustadz Dhabbaa’ menyerahkan rekaman suara Abdul Basith yang direkam di acara peringatan kelahiran Sayidah Zainab di atas kepada tim juri radio. Mereka sangat tertarik dengan keindahan suara yang dimiliki olehnya.

Tahun 1951 adalah tahun masuknya Abdul Basith ke radio dan ia menjadi salah seorang qari` yang berhasil kala itu. Setelah ia banyak dikenal oleh masyarakat, ia terpaksa harus meninggalkan kota Sha’id bersama keluarganya menuju Kairo untuk berdomisili di sisi makam Sayidah Zainab, salah seorang putri Rasulullah SAWW itu. Karena putri itulah yang menyebabkannya terkenal dan masuk ke radio. Menurut pendapat jutaan masyarakat, ia adalah sebuah anugerah Ilahi kepada Islam dan muslimin.

Dengan masuknya Abdul Basith ke radio, banyak orang-orang yang bersedia membeli radio sehingga suaranya selalu terdengar di setiap rumah penduduk. Di daerah-daerah terpencil pun yang hanya memiliki radio terbatas, orang yang memiliki radio, selalu mengeraskan volume radionya sehingga para tetangga mendengarkan qira`ahnya.

d.Berkunjung ke Berbagai Negara
Pada tahun 1952, ia memulai kunjungan-kunjungannya ke berbagai negara di dunia, baik dalam rangka mengisi kegiatan-kegiatan di bulan Ramadhan maupun di luar bulan Ramadhan. Bahkan sering terjadi undangan yang datang kepadanya tidak untuk merayakan sebuah peringatan atau resepsi. Ketika para pengundang ini ditanya dalam rangka apa Ustadz Abdul Basith diundang, mereka menjawab: “Peringatan ini didirikan hanya karena beliau, (tidak karena acara khusus). Karena ketika beliau hadir dalam sebuah peringatan, peringatan itu akan didominasi oleh kebahagiaan khusus”.

Penyambutan atas Ustadz Abdul Basith tidak kalah dengan penyambutan tamu-tamu resmi negara. Presiden Pakistan datang ke bandara dalam rangka menyambut kedatangannya. Ia pernah melantunkan qira`ah di masjid terbesar di kota Jakarta. Masjid itu dipenuhi oleh hadirin yang berjejal di dalamnya. Taman yang berada di depan masjid dipenuhi oleh para hadirin yang berjumlah 250 ribu orang. Barisan-barisan hadirin di sekitar masjid memanjang hingga jarak 1 km. Hal ini mereka lakukan hingga pagi hari dalam kindisi berdiri.

Ia tidak hanya mengadakan kunjungan ke negara-negara Islam dan Arab. Bahkan seluruh penjuru dunia telah ia kunjungi sehingga ia dapat memahami kondisi muslimin di sana.

Di antara masjid-masjid terkenal yang pernah dikunjunginya dan ia membaca qira`ah di situ adalah Masjidil Haram, Masjid Nabawi, Masjidil Aqsha, masjid Ibrahimi di Palestina, masjid Umawi di Damaskus, dan masjid-masjid yang terkenal di Asia, Afrika, Amerika, Perancis, London, India dan berbagai negara lainnya. Dalam setiap kunjungannya ini, foto dan tulisan-tulisan yang menyoroti kehidupannya selalu dimuat oleh media-media massa resmi maupun non-resmi.

e.Sakit dan Wafat
Penyakit gula yang diidapnya bertambah parah. Ia berusaha untuk memerangi penyakit tersebut dengan memakan segala macam makanan dan minuman. Akan tetapi, dengan semakin parahnya penyakit jantung yang menyerangnya, ia akhirnya menyerah di hadapan dua penyakit tersebut. Ia dibawa ke rumah sakit Dr. Badran di kota Jizah, Mesir. Para dokter menyarankan kepadanya untuk berobat ke London. Akhirnya, ia pergi ke sana. Dan selama satu minggu tinggal di sana, ia meminta kepada putra yang mendampinginya, Ibnu Thariq, untuk membawanya pulang ke Mesir. Ia sepertinya sudah merasa bahwa hidupnya sudah berakhir. Hari wafatnya bak halilintar menyambar hati jutaan muslimin yang salut kepadanya. Dalam tasyyi’ jenazahnya, semua duta besar negara-negara dunia ikut hadir sebagai wakil rakyat mereka dalam mengucapkan belasungkawa terakhir.

Karena Abdul Basith adalah salah satu faktor yang menyebabkan adanya korelasi erat antara muslimin dunia, tanggal 30 Februari dijadikan sebagai tahun penghormatan atas qari` besar ini guna mengenang kembali peristiwa yang terjadi pada tanggal 30 November 1988, hari wafatnya seorang qari` kaliber dunia yang bernama Ustadz Abdul Basith Muhammad Abdus Shamad.

Syeikh Abdus Shamad Al Palimbani









Syeikh Abdus Shamad Al Palimbani
Mengendalikan Perjuangan Dari Mekkah
Penulis : Hery Sucipto

Dalam percaturan intelektualisme Islam Nusantara --atau biasa juga disebut dunia Melayu-- khususnya di era abad 18 M, peran dan kiprah Syeikh Abdus Shamad Al-Palimbani tak bisa dianggap kecil. Syeikh Al-Palimbani, demikian biasa ia disebut banyak kalangan, merupakan salah satu kunci pembuka dan pelopor perkembangan intelektualisme Nusantara. Ketokohannya melengkapi nama-nama ulama dan intelektual berpengaruh seangkatannya semisal Al-Raniri, Al-Banjari, Hamzah Fansuri, Yusuf Al-Maqassari, dan masih banyak lainnya.

Dalam deretan nama-nama tersebut itulah, posisi Syeikh Al-Palimbani menjadi amat sentral berkaitan dengan dinamika Islam. Malah, sebagian sejarahwan, seperti Azyumardi Azra, menilai Al-Palimbani sebagai sosok yang memiliki kontribusi penting bagi pertumbuhan Islam di dunia Melayu. Ia bahkan juga bersaham besar bagi nama Islam di Nusantara berkaitan kiprah dan kontribusi intelektualitasnya di dunia Arab, khususnya semasa ia menimba ilmu di Mekkah.

Syeikh Abdus Shamad Al-Palimbani dilahirkan pada 1116 H/1704 M, di Palembang. Tentang nama lengkap Syeikh Al-Palimbani, sejauh yang tercatat dalam sejarah, ada tiga versi nama. Yang pertama, seperti dilansir Ensiklopedia Islam, ia bernama lengkap Abdus Shamad Al-Jawi Al-Palimbani. Versi kedua, merujuk pada sumber-sumber Melayu, sebagaimana dikutip Azyumardi Azra dalam bukunya Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII (Mizan: 1994), ulama besar ini memiliki nama asli Abdus Shamad bin Abdullah Al-Jawi Al-Palimbani. Sementara versi terakhir, tulis Rektor UIN Jakarta itu, bahwa bila merujuk pada sumber-sumber Arab, maka Syeikh Al-Palimbani bernama lengkap Sayyid Abdus Al-Shamad bin Abdurrahman Al-Jawi. Mana dari ketiga nama itu yang diyakini sebagai nama Abdus Shamad, Azyumardi berpendapat bahwa nama terakhirlah yang disebut Syeikh Abdus Shamad.

Kesimpangsiuran nama ulama ini dapat dimaklumi mengingat sejarah panjangnya berpetualang, baik di dalam negeri maupun luar negeri, dalam menuntut ilmu. Bila ditilik latar belakang, potret Al-Palimbani sebenarnya tak jauh beda dengan ulama-ulama Nusantara lainnya, seperti Hamzah Fansur, Al-Raniri, Al-Singkili, Yusuf Al-Maqassari, hingga para ulama generasi pelanjut, semisal KH Ahmad Dahlan dan KH Hasyim Asy'ari.

Dari silsilah, nasab Syeikh Al-Palimbani masih keturunan Arab, yakni dari jalur ayah. Syeikh Abdul Jalil bin Syeikh Abdul Wahhab bin Syeikh Ahmad Al-Mahdani, ayah Al-Palimbani, adalah ulama asal Yaman yang diangkat menjadi Mufti negeri Kedah pada awal abad ke-18. Sementara ibunya, Radin Ranti, adalah wanita Palembang yang diperistri Sheikh Abdul Jalil, setelah sebelumnya sempat menikahi Wan Zainab, putri Dato' Sri Maharaja Dewa di Kedah.

Seperti lazimnya anak-anak kecil di masa itu, Syeikh Al-Palimbani menerima pengajaran agama dari orang tuanya, selain beberapa guru di kampungnya yang sempat membimbing dirinya. Minatnya terhadap ilmu-ilmu keagamaan telah terlihat sejak usia dini. Ia misalnya tercatat mendalami ilmu tasawuf dengan mendalami kitab At-Tuhfah Al-Mursalah (Anugerah yang Diberikan) dari salah seorang gurunya, Syeikh Abdul Rahman bin Abdul Aziz Al-Maghribi.

Ia juga mempelajari ilmu Suluk dari Syeikh Muhammad bin Samman, selain mendalami kitab-kitab tasawuf dari Syeikh Abdur Rauf Al-Sinkili dan Samsuddin Al-Sumaterani, keduanya dari Aceh. Selain di kampung halamannya, Syeikh Al-Palimbani juga mendapatkan pendidikan agama di daerah Kedah dan Patani (Thailand Selatan). Karena sedari kecil lebih banyak mempelajari ilmu tasawuf, sejarah kemudian mencatat dirinya sebagai ulama yang memiliki spesialisasi dalam cabang ilmu tersebut.

Merasa kurang puas dengan ilmu yang dicapainya, orang tua Al-Palimbani kemudian mengirim anaknya itu ke tanah Suci, Haramayn, Mekkah, dan Madinah. Tidak jelas, kapan ia dikirim ke salah satu pusat ilmu Islam di kala itu. Sejauh yang terekam oleh sejarah, ia diperkirakan menginjak dewasa ketika 'hijrah' ke Arabia tersebut. Di negeri barunya ini, ia terlibat dalam komunitas orang-orang Jawa, dan menjadi kawan seperguruan menuntut ilmu dengan ulama Nusantara lainnya. Misalnya, Muhammad Arsyad Al-Banjari, Abdul Wahhab Bugis, Abdul Rahman Al-Batawi, dan Dawud Al-Fatani. Meski ia menetap di Mekkah, tak berarti ia melupakan negri leluhurnya. Syeikh Al-Palimbani, catat Azyumardi, tetap memberikan perhatian besar pada perkembangan sosial, politik, dan keagamaan di Nusantara.

Sejak kepindahannya di Haramayn ini, Syeikh Al-Palimbani mengalami perubahan signifikan berkaitan dengan intelektualitas dan spiritualitas. Perkembangan dan perubahan ini tidak lepas dari proses pencerahan yang diberikan para gurunya. Beberapa gurunya yang masyhur dan berandil besar dalam proses tersebut, antara lain Muhammad bin Abdul Karim Al-Sammani, Muhammad bin Sulayman Al-Kurdi, dan Abdul Al-Mun'im Al-Damanhuri. Selain itu, juga tercatat pernah mengajar Al-Palimbani, semisal ulama besar Ibrahim Al-Rais, Muhammad Murad, Muhammad Al-Jawhari, dan Athaullah Al-Mashri. Tidak sia-sia, perjuangannya menuntut ilmu di Masjidil Haram dan tempat-tempat lainnya, mengantarkan dirinya menjadi salah seorang ulama Nusantara yang disegani dan dihormati kalangan ulama Arab, juga Nusantara.

Meski mendalami tasawuf, tak berarti Syeikh Al-Palimbani tidak kritis. Ia tercatat kerap mengkritik kalangan yang mempraktikkan tarekat secara berlebihan. Tak henti-hentinya, ia selalu mengingatkan bahaya kesesatan yang diakibatkan oleh aliran-aliran tarekat tersebut, khususnya tarekat Wujudiyah Mulhid yang terbukti telah membawa banyak kesesatan di Aceh. Ia memang tak berhenti pada kritik semata. Untuk mencegah apa yang diperingatkannya itu, Syeikh Al-Palimbani menyarikan dua kitab karangan ulama dan filosof besar abad pertengahan, Imam Al-Ghazali, yakni kitab Lubab Ihya' Ulumud Diin (Intisari Ihya' Ulumud Diin), dan Bidayah Al-Hidayah (Awal bagi suatu hidayah). Dua karya Imam Al-Ghazali ini dinilainya moderat dan membantu membimbing mereka yang mempraktikkan aliran tarekat sufiyah.

Berkaitan dengan ajaran tasawufnya, Syeikh Al-Palimbani dinilai mengambil jalan tengah antara doktrin tasawuf Imam Al-Ghazali dan ajaran wihdatul wujud-nya Ibnu 'Arabi; bahwa manusia sempurna (insan kamil) adalah manusia yang memandang Hakikat Yang Maha Esa itu dalam fenomena alam yang serba ganda dengan tingkat makrifat tertinggi, sehingga mampu melihat Allah SWT sebagai esensi mutlak.

Selain itu, Syeikh Al-Palimbani juga mengajarkan ajaran-ajaran tarekat Al-Khawatiyah Al-Sammaniyah, yang menempatkan guru tarekat tidak saja sebagai pembimbing kerohanian, tapi juga sebagai penghubung antara murid dan Tuhan, bila ingin dikenal secara langsung. Di Indonesia sendiri, pengaruh Al-Palimbani dinilai cukup besar, khususnya berkaitan dengan ajaran tasawuf. Petualangan panjangnya baru berakhir pada 1788, ketika Sang Khaliq memanggilnya untuk selama-lamanya, dalam usia senja.


Ulama Produktif dengan Sejumlah Karya

Tak disangkal lagi, peranan penting Syeikh Abdus Shamad Al-Palimbani dalam percaturan perkembangan Islam di Nusantara bukan lantaran keterlibatannya dalam komunitas jaringan ulama. Namun, lebih karena tulisan-tulisan Syeikh Al-Palimbani yang banyak dibaca pelbagai kalangan di wilayah Melayu-Indonesia, dan sebagian di dunia Arab, hingga saat ini.

Bila dicermati, karya-karya Al-Palimbani menyebarkan bukan saja ajaran-ajaran neosufisme, tetapi juga secara proaktif menekankan kepada umat Islam akan pentingnya melancarkan jihad. Yakni, melawan kaum kolonialis Eropa, terutama Belanda, yang kala itu secara terus menerus melakukan upaya-upaya menundukkan seluruh entitas politik Muslim di bumi Nusantara.

Dalam konteks ini, Syeikh Al-Palimbani menulis buku Nasihah Al-Muslimin wa Tazkirah al-Mukminin Fi Fadail Jihad Fi Sabilillah wa Karamah al-Mujahidin (Nasihat bagi kaum muslimin dan peringatan bagi kaum mukminin mengenai keutamaan Jihad di jalan Allah SWT). Tak syak lagi, seruan jihadnya, sebagaimana tertuang dalam karyanya tersebut, sampai kepada kaum muslimin internasional.

Latar belakang Syeikh Al-Palimbani menulis buku tersebut antara lain dilandasi keprihatinanya atas nasib dunia Islam yang kala itu tengah dalam cengkeraman kolonial Eropa. Karyanya itu memang dinilai berbobot. Bahkan pahlawan nasional Tengku Cik Di Tiro, penulis buku Hikayat Perang Sabil juga mengutip karya Al-Palimbani tersebut.

Karya lainnya yang tercatat monumental adalah dalam kaitan keimanan dan ketauhidan. Di bidang ini ia menulis Tuhfat Ar-Raghibiin Fi Bayan Haqiqah Iman Al-Mukminin wa maa Yufsiduh Fi Riddah Al-Murtadiin. Buku yang membahas tentang hakikat iman orang-orang mukmin dan hal-hal yang merusaknya lantaran kemurtadan ini ditulis pada 1774. Buku ini ia tulis atas permintaan Sultan Najmuddin, sultan Palembang. Syeikh Al-Palimbani juga menulis kitab Sayr Al-Salikin Ila Ibadah Rabb Al-Alamin, yang dikenal sangat berbobot itu.

Tak hanya itu, Syeikh Al-Palimbani juga menulis buku dalam bahasa Melayu, antara lain; Zuhrad Al-Murid Fi Bayan Al-Kalimah Tauhid (tentang persoalan logika dan teologi, yang ditulis di Mekkah pada 1764 M), Al-Urwah Wusqa wa Silsilah Uli Al-Ittiqa (tentang wirid, berbahasa Arab), Hidayah As Salikin Fi Suluk Maslak Al-Muttaqin (Petunjuk jalan bagi orang yang ingin mencapai tingkat Taqwa, berbahasa Melayu), yang ditulis di Mekkah pada 1778, serta buku Ratib Abdus Shamad (mengenai ratib, yakni zikir, pujian, dan seterusnya). her

Sayidina Abu Bakar Ash Shiddiq








Abu Bakar Ash Shiddiq
Demokrat Penegak Keadilan

Hanya dalam 2,5 tahun kepemimpinannya, rakyat mencatatnya sebagai khalifah (pemimpin) Islam yang sukses memberantas kemiskinan, menciptakan stabilitas sosial dan politik, serta solidaritas kemanusiaan yang tanpa batas. Sekalipun dia pedagang kaya, tapi kesederhanaan dan kelembutan kepribadiannya selalu mendasari setiap kebijakan dan kepemimpinannya sebagai pengganti Rasulullah SAW.

Padahal, boleh dikata berbagai ancaman, disintegrasi dan cercaan yang dialamatkan kepadanya, tak kalah hebatnya dibanding pada masa Rasulullah. Namun, itu semua dihadapi dengan hati bening, jiwa lapang, dan pikiran jernih. Ia senantiasa mengembalikan semua persoalan yang dihadapinya kepada ajaran yang hanif.

Abu Bakar bernama lengkap Abdullah bin Abi Kuhafah At-Tamimi. Nama kecilnya adalah Abdul Ka'bah. Gelar Abu Bakar diberikan Rasulullah karena cepatnya dia masuk Islam (assaabiquunal awwaluun, yakni golongan pertama yang masuk Islam). Sedang Ash Shiddiq yang berarti 'amat membenarkan' adalah gelar yang diberikan kepadanya lantaran ia segera membenarkan Rasulullah SAW dalam berbagai peristiwa.

Dari garis kedua orang tua, Usman bin Amir bin Amr bin Sa'ad bin Taim bin Murra bin Ka'ab bin Lu'ayy bin Talib bin Fihr bin Nadr bin Malik (ayah), dan Ummu Khair Salama binti Skhar (suku Quraisy) terlihat, Abu Bakar termasuk dari suku terhormat, yakni suku Taim (ayah) dan Quraisy (ibu). Kedua suku ini banyak melahirkan orang besar.

Sejak kecil, Abu Bakar dikenal sebagai anak yang cerdas, sabar, jujur dan lembut. Ia menjadi sahabat Nabi SAW sejak keduanya masih usia remaja. Karena sifatnya yang mulia itu, ia banyak disenangi dan disegani oleh masyarakat sekitar, juga lawan maupun kawan saat memperjuangkan Islam.

Abu Bakar yang juga mahir dalam ilmu hisab itu, dikenal mempunyai kedudukan istimewa di sisi Nabi SAW. Bahkan salah satu putrinya, yakni 'Aisyah Ra, kemudian dinikahi Rasulullah.

Secara universal, sesungguhnya prototipe Abu Bakar mungkin dapat digolongkan sebagai pejuang Islam yang sejak awal konsisten membela kaum tertindas, tak pandang bulu. Seperti dikutip Jamil Ahmed dalam Seratus Muslim Terkemuka, Abu Bakar tak pernah absen dalam setiap pertempuran menegakkan kebenaran dan menumpas penindasan.

Perjuangannya itu semakin berat sejak dirinya dipilih sebagai khalifah, menggantikan Rasulullah yang wafat pada 632 M. Ketika itu, wilayah kekuasaan Islam hampir meliputi seluruh semenanjung Arabia, dan terdiri berbagai suku.

Terpilihnya Abu Bakar yang juga disepakati kalangan sahabat itu dinilai tepat saat negara dalam kondisi tak menentu. Dalam pidato baiat yang dilakukan di Masjid Nabawi, Madinah, Abu Bakar antara lain menyatakan, "Orang yang lemah di antara kalian akan menjadi kuat dalam pandangan saya hingga saya menjamin hak-haknya seandainya Allah menghendaki, dan orang yang kuat di antara kalian adalah lemah dalam pandangan saya sehingga saya dapat merebut hak daripadanya.

Taatilah saya selama saya taat kepada Allah dan Rasul-Nya, dan bila saya mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, janganlah ikuti saya."

Sebagai pemimpin, kedermawanan dan solidaritas kemanusiaannya terhadap sesama tak diragukan lagi. Ketika Abu Bakar diangkat menjadi khalifah, kekayaannya mencapai 40.000 dirham, nilai yang sangat besar saat itu. Kekayaan itu seluruhnya didedikasikan bagi perjuangan Islam. Soal ini, sejarawan Kristen Mesir, Jurji Zeidan, punya komentar menarik. Katanya, "Zaman khalifah-khalifah yang alim adalah merupakan keemasan Islam.

Khalifah-khalifah itu terkenal karena kesederhanaan, kejujuran, kealiman, dan keadilannya. Ketika Abu Bakar masuk Islam, ia memiliki 40.000 dirham, jumlah yang sangat besar waktu itu, akan tetapi ia habiskan semua, termasuk uang yang diperolehnya dari perdagangan demi memajukan agama Islam.

Ketika wafat, tidaklah ia mempunyai apa-apa kecuali uang satu dinar. Ia biasa jalan kaki ke rumahnya maupun kantornya. Jarang terlihat dia menunggang kuda..."

Keikhlasannya yang luar biasa demi kemakmuran rakyat dan agamanya itu, kata Jurji, sampai-sampai menjelang wafatnya, Abu Bakar memerintahkan keluarganya untuk menjual sebidang tanah miliknya dan hasilnya dikembalikan ke masyarakat sebesar jumlah uang yang telah ia ambil dari rakyatnya itu sebagai honorarium, dan selebihnya agar diberikan kepada Baitulmal wat Tamwil, lembaga keuangan negara.

Stabilitas dan keamanan masyarakat, di antaranya yang paling menonjol dalam 'rapor' pemerintahan Abu Bakar. Karena dinilai sebagai amanat negara, Abu Bakar mengangkat Umar bin Khaththab sebagai kadi (hakim).

Namun, selama setahun sejak diangkat sebagai kadi tak satupun pengaduan dari masyarakat muncul. Ini karena rakyat terbiasa hidup jujur dan bersih dibanding masa sebelum Islam. Sementara Ali, Usman, dan Zaid bin Tsabit diangkat sebagai khatib.

Di medan pertempuran, sang khalifah juga mengajarkan bagaimana berperang yang baik. Sepuluh pesan yang kerap disampaikan khalifah yang wafat pada 13 H, dalam usia 63 tahun itu, ketika hendak melepas pasukannya ke medan perang adalah: "Jangan berkhianat, jangan berlebih- lebihan, jangan menipu (berbuat makar), jangan membunuh lawan dengan cara-cara sadis, jangan membunuh anak-anak, lelaki lanjut usia, dan wanita.

Juga jangan menebang pohon-pohon kurma yang sedang berbuah, jangan melakukan pembakaran, jangan menyembelih domba, sapi, dan unta kecuali hanya untuk sekadar kebutuhan makan dagingnya. Nanti kalian akan berjumpa dengan orang-orang yang bertapa dalam biara, maka biarkanlah mereka dan jangan mengusiknya."n hery s/berbagai sumber

Dijamin Masuk Surga

Menjadi Muslim yang baik dan selalu taat pada agamanya tidaklah mudah. Tapi jalan menuju hal itu selalu terbuka. Sejarah mencatat, Abu Bakar satu dari sekian banyak sahabat Rasulullah yang dengan tegar dan tabah menghadapi berbagai cobaan dan tantangan dalam mengamalkan ajaran Islam.

Tapi jangan pula ditanya seberapa besar kesetiaan Abu Bakar kepada Rasulullah, atau sejauh mana kualitas keimanannya kepada Allah.
Soal ini, Nabi sendiri dalam banyak sabdanya secara khusus berujar tentang diri dan kebaikan Abu Bakar. Kata Nabi SAW, seperti diriwayatkan Imam Bukhari, "Sesungguhnya Allah mengutusku kepadamu dan kamu berkata, "Engkau dusta! Sedangkan Abu Bakar berkata, "Dia benar." Abu Bakar menyantuni aku dengan dirinya dan hartanya.

Tidakkah kalian berhenti mengganggunya. Sesudah itu, Abu Bakar tak lagi diganggu." Masuknya Abu Bakar ke dalam Islam pun tak kalah pentingnya sebagai 'ibrah (hikmah) kita semua. Kisah itu berawal ketika Abu Bakar bertemu Rasulullah. Kepada Rasul terakhir ini, ia bertanya, "Ya Muhammad apakah benar apa yang dituduhkan kaum Quraisy (kaumnya Abu Bakar sendiri, Red) terhadapmu bahwa kamu meninggalkan tuhan-tuhan kita, merendahkan akal pikiran kita dan mengkufuri ajaran-ajaran nenek moyang kita?" "Ya benar! Sesungguhnya aku ini Rasul Allah dan Nabi-Nya.

Allah mengutus aku untuk menyampaikan risalah-Nya dan mengajakmu kepada Allah yang benar. Demi Allah, itu adalah hak. Aku mengajakmu, hai Abu Bakar kepada Allah Yang Esa, tunggal, tiada sekutu bagi-Nya. Janganlah kamu menyembah selain Allah dan patuh serta taatlah kepada- Nya," jawab sang Nabi. Abu Bakar pun masuk Islam.

Sejak masuknya Ash Shiddiq ke agama terakhir ini, perjungan dakwah Islam yang dilakukan Rasulullah makin kuat. Ia yang termasuk periode awal para pemeluk Islam itu, menjadikan seluruh jiwa, raga dan harta Abu Bakar, hanya untuk perjuangan dakwah Rasulullah.

Perlindungan dan pengorbanannya setiap saat terhadap sang Rasul pun dilakukannya sampai-sampai ia tak memedulikan lagi dirinya sendiri. Soal ini, Rasulullah, sebagaimana diriwayatkan Ibnu Majah dan Imam Tirmizi, bersabda, "Tiada seorang pun bermanfaat bagiku hartanya sebagaimana bermanfaat bagiku harta Abu Bakar."

Sosok Abu Bakar yang memang memiliki sifat-sifat yang sama seperti Rasulullah, di antaranya amanah, tablig (menyampaikan), fathanah (cerdas), teguh pendirian dan taat beragama, rendah diri dan selalu mendahulukan kepentingan orang lain, itulah yang membuat Rasulullah dalam banyak hal memberikan kepercayaan pada diri Abu Bakar.

Dengan kepemilikan hartanya yang cukup banyak, lantaran ia memang saudagar kaya di masanya, Abu Bakar menjadikan seluruh harta yang dimilikinya hanya untuk mengabdi di jalan-Nya. Sekalipun dalam kondisi sakit misalnya, Abu Bakar senantiasa menyambut ajakan amal baik. Seperti dijelaskan sahabat Umar bin Khaththab, "Aku tidak pernah mendahului Abu Bakar dalam mengamalkan kebajikan. Dia yang selalu mendahuluiku."

Perjuangan dan pengorbanan Abu Bakar yang penuh keikhlasan itu oleh Allah akan dibalas dengan surga. Sebagaimana diceritakan Abu Dzaar Ra, ketika Rasulullah masuk ke rumah 'Aisyah Ra, beliau mengatakan Abu Bakar termasuk dalam al 'asyarah al mubasysyiriina bil jannah (sepuluh orang yang dijamin Rasulullah bakal masuk surga). Dalam kelompok ini juga ada Umar bin Khaththab, Usman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Thalhah bin Ubaidillah, Zubair Ibnul Awwam, Abdurrahman bin 'Auf, Sa'ad bin Abi Waqqas, Said bin Zaid, dan Abu Ubaidah Ibnul Jarrah.n her


 
Admin
Silahkan Pilih
Login