Rabu, 10 April 2013
Selasa, 09 April 2013
Berapa Lama Kita Dikubur?
Berapa Lama Kita Dikubur?
Semoga berguna . . . . . . .
Awan sedikit mendung, ketika kaki kaki
kecil Yani berlari-lari gembira di atas jalanan Menyeberangi kawasan lampu
merah Karet. Baju merahnya yang kebesaran melambai lambai di tiup angin. Tangan
kanannya memegang es krim Sambil sesekali mengangkatnya ke mulutnya untuk
dicicipi, sementara tangan kirinya mencengkram ikatan sabuk celana ayahnya.
Yani dan ayahnya memasuki wilayah pemakaman umum Karet, berputar sejenak ke
kanan dan kemudian duduk di atas seonggok nisan
"Hj Rajawali binti Muhammad
19-10-1905:20-01-1965"
"Nak, ini kubur nenekmu mari kita
berdo'a untuk nenekmu" Yani melihat wajah ayahnya, lalu menirukan tangan
ayahnya yang mengangkat ke atas dan ikut memejamkan mata seperti ayahnya. Ia mendengarkan
ayahnya berdo'a untuk neneknya...
"Ayah, nenek waktu meninggal umur 50
tahun ya yah." Ayahnya mengangguk sembari tersenyum sembari memandang
pusara Ibu-nya.
"Hmm, berarti nenek sudah meninggal
36 tahun ya yah..." kata Yani berlagak sambil matanya menerawang dan
jarinya berhitung.
"Ya, nenekmu sudah di dalam kubur 36
tahun ... " Yani memutar kepalanya,
memandang sekeliling, banyak kuburan di sana. Di samping kuburan neneknya ada
kuburan tua berlumut
"Muhammad Zaini : 19-02- 1882 :
30-01-1910"
"Hmm.. kalau yang itu sudah meninggal
91 tahun yang lalu ya yah" jarinya menunjuk nisan disamping kubur
neneknya. Sekali lagi ayahnya mengangguk. Tangannya terangkat mengelus kepala
anak satu-satunya.
"Memangnya kenapa ndhuk ?" kata
sang ayah menatap teduh mata anaknya.
"Hmmm, ayah khan semalam bilang,
bahwa kalau kita mati, lalu di kubur dan kita banyak dosanya, kita akan disiksa
di neraka " kata Yani sambil meminta persetujuan ayahnya. "Iya kan
yah?"
Ayahnya tersenyum, "Lalu?"
"Iya .. kalau nenek banyak dosanya,
berarti nenek sudah disiksa 36 tahun dong yah di kubur? Kalau nenek banyak
pahalanya, berarti sudah 36 tahun nenek senang di kubur .... ya nggak
yah?"
Mata Yani berbinar karena bisa menjelaskan
kepada ayahnya pendapatnya. Ayahnya tersenyum, namun sekilas tampak keningnya
berkerut, tampaknya cemas .....
"Iya nak, kamu pintar," kata
ayahnya pendek.
Pulang dari Pemakaman, ayah Yani tampak
gelisah di atas sajadahnya, memikirkan apa yang dikatakan anaknya ... 36 tahun
... hingga sekarang ...kalau kiamat datang 100 tahun lagi ....136 tahun disiksa
.. atau bahagia di kubur .... Lalu ia menunduk ... meneteskan air mata ...
Kalau ia meninggal .. lalu banyak dosanya ... lalu kiamat masih 1000 tahun lagi
berarti ia akan disiksa 1000 tahun? Innalillaahi wa inna ilaihi rooji'un ...
air matanya semakin banyakmenetes.....Sanggupkah ia selama itu disiksa? Iya
kalau kiamat 1000 tahun ke depan ..kalau 2000 tahun lagi ? Kalau 3000 tahun
lagi? Selama itu ia akan disiksa di kubur .. lalu setelah dikubur? Bukankah
akan lebih parah lagi? Tahankah? Padahal melihat adegan preman dipukuli massa
ditelevisi kemarin ia sudah tak tahan?
Ya Allah ...ia semakin menunduk ..
tangannya terangkat keatas..bahunya naik turun tak teratur.... air matanya
semakin membanjiri jenggotnya ..... Allahumma as aluka khusnul khootimah
berulang kali di bacanya doa itu hingga suaranya serak ... dan ia berhenti
sejenak ketika terdengar batuk Yani.
Dihampirinya Yani yang tertidur di atas
dipan bambu... dibetulkannya selimutnya. Yani terus tertidur ...tanpa tahu,
betapa sang bapak sangat berterima kasih padanya karena telah menyadarkannya ..
arti Sebuah kehidupan... dan apa yang akan datang di depannya...
Ustadz Abdul Basith Muhammad Abdus Shamad
Ustadz Abdul Basith Muhammad Abdus Shamad
a.Biografi
Ustadz Abdul Basith Muhammad
Abdus Shamad dilahirkan pada tahun 1927 M. di sebuah desa yang bernama
Al-Maza’izah yang terletak di kota Armant di propinsi Qana, Mesir selatan. Ia
lahir di sebuah keluarga yang sangat memberikan perhatian khusus kepada Al
Quran, baik dari segi Tajwid maupun menghafalkannya. Kakeknya yang bernama
Ustadz Abdus Shamad adalah salah seorang penghafal Al Quran yang sangat
menguasai ilmu Tajwid dan hukum-hukumnya. Kakeknya dari pihak ibu adalah
seorang ’arif, guru agung dan memiliki keudukan yang terkenal di desanya.
Julukannya adalah Abu Daud. Ayahnya yang bernama Muhammad adalah salah seorang
guru kaliber menghafal dan ilmu Tajwid Al Quran. Ia memiliki dua saudara
masing-masing bernama Mahmud dan Abdul Hamid. Mereka pernah belajar menghafal
Al Quran di sebuah tempat pendidikan menghafal Al Quran yang bernama
“Al-Maktab”. Abdul Basith kecil bergabung dengan saudara-saudaranya untuk
menghafal Al Quran ketika ia masih berusia 6 tahun. Gurunya bernama Ustadz
Amir. Ia menyambutnya dengan senang hati ketika ia melihat kemahirannya dalam
bidang Al Quran. Hal ini dikarenakan lantunan-lantunan ayat-ayat suci di
rumahnya siang dan malam ketika ia masih kecil. Gurunya melihat keistimewaan-keistimewaan
yang ada pada diri Abdul Basith kecil yang tidak dimiliki oleh teman-teman
sebayanya. Seperti menangkap pelajaran dengan cepat, kecerdasan, keinginannya
yang kuat untuk meniru gurunya, kejituannya dalam mengucapkan huruf-huruf Arab
dari tempat-tempatnya dan suaranya yang indah.
Ustadz Abdul Basith bercerita
mengenai dirinya: “Usiaku baru 10 tahun ketika aku berhasil menyelesaikan
hafalan Al Quran. Ayat-ayatnya keluar dari mulutku bak air sungai yang berjalan
tenang. Ayahku adalah salah seorang pegawai di kementrian tranportasi dan
kakekku adalah seorang ulama`. Aku pernah bertanya kepada kakekku mengenai
aneka ragam bacaan Al Quran. Ia menyarankan kepadaku untuk pergi ke kota
Thantha yang terletak di Mesir Utara demi mempelajari aneka ragam bacaan dan
Ulumul Quran dari seorang guru yang bernama Ustadz Muhammad Salim. Jarak antara
kota Armant yang terletak di Mesir Selatan dan kota Thantha yang terletak di
Mesir Utara adalah sangat jauh. Akan tetapi, masalahnya menyangkut masa
depanku. Akhirnya aku bersiap-siap untuk pergi. Sehari sebelum kepergianku, aku
mendengar berita kedatangan Ustadz Muhammad Salim di kota Armant. Ia datang
dengan tujuan untuk membentuk sebuah training pengajaran aneka ragam bacaan Al
Quran di sebuah sekolah agama di kota tersebut. Para penduduk desa menyambutnya
dengan hangat dan langsung mengelilinginya. Karena mereka tahu siapakah orang
tersebut dan memahami kemampuannya dalam ilmu-ilmu Al Quran. Kedatangannya
seakan-akan sebuah takdir yang datang kepada kami dalam waktu yang sangat
tepat.
Akhirnya penduduk desa membentuk
sebuah group yang siap untuk menghafalkan Al Quran. Ustadz Muhammad Salim
mengajarkan Ulumul Quran, aneka ragam bacaan dan hafalan Al Quran kepada group
tersebut.
Aku sendiri datang ke sana dan
mengulangi hafalan Al Quran di hadapannya. Aku juga berhasil menghafal kitab
Asy-Syaathibiyah yang memuat al-qiraa`aatus sab’ah (tujuh macam cara membaca Al
Quran)”.
Setelah Ustadz Abdul Basith
berusia 12 tahun, ia sering mendapat undangan dari desa dan kota-kota yang
berada di propinsi Qana, khususnya dari group di atas (untuk mengisi
acara-acara yang didirikan di kota dan desa-desa tersebut). Hal ini berkat
pujian-pujian yang diucapkan oleh Ustadz Muhammad Salim berkenaan dengannya.
b.Berziarah ke Makam Sayidah Zainab
a.s.
Pada tahun 1950 M., ia pergi
berziarah ke makam-makam Ahlul Bayt dan anak cucu Rasulullah SAWW. Yang
mendorongnya untuk mangadakan ziarah tersebut adalah sebuah peringatan yang
diadakan dalam rangka kelahiran Sayidah Zainab a.s. Orang-orang yang
berinisiatif untuk mengadakan peringatan tersebut adalah para qari` kaliber
dunia yang aktif mengisi acara-acara di radio, seperti Ustadz Abdul Fattah
Asy-Sya’sya’i, Ustadz Muthafa Ismail, Ustadz Abdul ‘Azhim Zahir, Ustadz Abul
‘Ainain Syu’aisya’ dan lain-lainnya. Setelah pertengahan malam berlalu di mana
masjid Zainabiyah telah dipenuhi oleh para pencinta Ahlul Bayt a.s. yang datang
dari berbagai penjuru, salah seorang kerabat dekat Abdul Basith minta izin dari
panitia acara supaya pemuda belia itu mebaca qira`ah Al Quran selama 10 menit.
Ia memberi izin dan Abdul Basith mulai membaca surah Al-Ahzab. Masjid mendadak
sunyi dan semua pandangan tertuju kepada seorang pemuda belia yang berani duduk
di sebuah tempat yang hanya diduduki oleh para qari` kaliber dunia. Akan
tetapi, kesunyian itu tidak lama berlanjut. Karena tidak lama kemudian,
kesunyian itu berubah menjadi teriakan-teriakan pujian seperti “Allahu Akbar”
dan lain-lain yang mampu menggetarkan pilar-pilar masjid. Dari 10 menit yang
telah disepakati berubah menjadi satu setengah jam.
c.Masuk ke Radio
Di akhir tahun 1951, Ustadz
Dhabbaa’ meminta dari Abdul Basith untuk bersedia mengisi acara-acara di radio.
Akan tetapi, karena hubungannya yang erat dengan masyarakat kota Sha’id dan
radio memiliki program-program yang harus dijalankan dengan teratur, ia
bersedia menerima tawaran tersebut di masa-masa mendatang. Secara diam-diam
Ustadz Dhabbaa’ menyerahkan rekaman suara Abdul Basith yang direkam di acara
peringatan kelahiran Sayidah Zainab di atas kepada tim juri radio. Mereka
sangat tertarik dengan keindahan suara yang dimiliki olehnya.
Tahun 1951 adalah tahun masuknya
Abdul Basith ke radio dan ia menjadi salah seorang qari` yang berhasil kala
itu. Setelah ia banyak dikenal oleh masyarakat, ia terpaksa harus meninggalkan
kota Sha’id bersama keluarganya menuju Kairo untuk berdomisili di sisi makam
Sayidah Zainab, salah seorang putri Rasulullah SAWW itu. Karena putri itulah
yang menyebabkannya terkenal dan masuk ke radio. Menurut pendapat jutaan
masyarakat, ia adalah sebuah anugerah Ilahi kepada Islam dan muslimin.
Dengan masuknya Abdul Basith ke
radio, banyak orang-orang yang bersedia membeli radio sehingga suaranya selalu
terdengar di setiap rumah penduduk. Di daerah-daerah terpencil pun yang hanya
memiliki radio terbatas, orang yang memiliki radio, selalu mengeraskan volume
radionya sehingga para tetangga mendengarkan qira`ahnya.
d.Berkunjung ke Berbagai Negara
Pada tahun 1952, ia memulai
kunjungan-kunjungannya ke berbagai negara di dunia, baik dalam rangka mengisi
kegiatan-kegiatan di bulan Ramadhan maupun di luar bulan Ramadhan. Bahkan
sering terjadi undangan yang datang kepadanya tidak untuk merayakan sebuah
peringatan atau resepsi. Ketika para pengundang ini ditanya dalam rangka apa
Ustadz Abdul Basith diundang, mereka menjawab: “Peringatan ini didirikan hanya
karena beliau, (tidak karena acara khusus). Karena ketika beliau hadir dalam
sebuah peringatan, peringatan itu akan didominasi oleh kebahagiaan khusus”.
Penyambutan atas Ustadz Abdul
Basith tidak kalah dengan penyambutan tamu-tamu resmi negara. Presiden Pakistan
datang ke bandara dalam rangka menyambut kedatangannya. Ia pernah melantunkan
qira`ah di masjid terbesar di kota Jakarta. Masjid itu dipenuhi oleh hadirin
yang berjejal di dalamnya. Taman yang berada di depan masjid dipenuhi oleh para
hadirin yang berjumlah 250 ribu orang. Barisan-barisan hadirin di sekitar
masjid memanjang hingga jarak 1 km. Hal ini mereka lakukan hingga pagi hari
dalam kindisi berdiri.
Ia tidak hanya mengadakan kunjungan
ke negara-negara Islam dan Arab. Bahkan seluruh penjuru dunia telah ia kunjungi
sehingga ia dapat memahami kondisi muslimin di sana.
Di antara masjid-masjid terkenal
yang pernah dikunjunginya dan ia membaca qira`ah di situ adalah Masjidil Haram,
Masjid Nabawi, Masjidil Aqsha, masjid Ibrahimi di Palestina, masjid Umawi di
Damaskus, dan masjid-masjid yang terkenal di Asia, Afrika, Amerika, Perancis,
London, India dan berbagai negara lainnya. Dalam setiap kunjungannya ini, foto
dan tulisan-tulisan yang menyoroti kehidupannya selalu dimuat oleh media-media
massa resmi maupun non-resmi.
e.Sakit dan Wafat
Penyakit gula yang diidapnya
bertambah parah. Ia berusaha untuk memerangi penyakit tersebut dengan memakan
segala macam makanan dan minuman. Akan tetapi, dengan semakin parahnya penyakit
jantung yang menyerangnya, ia akhirnya menyerah di hadapan dua penyakit
tersebut. Ia dibawa ke rumah sakit Dr. Badran di kota Jizah, Mesir. Para dokter
menyarankan kepadanya untuk berobat ke London. Akhirnya, ia pergi ke sana. Dan
selama satu minggu tinggal di sana, ia meminta kepada putra yang
mendampinginya, Ibnu Thariq, untuk membawanya pulang ke Mesir. Ia sepertinya
sudah merasa bahwa hidupnya sudah berakhir. Hari wafatnya bak halilintar
menyambar hati jutaan muslimin yang salut kepadanya. Dalam tasyyi’ jenazahnya,
semua duta besar negara-negara dunia ikut hadir sebagai wakil rakyat mereka
dalam mengucapkan belasungkawa terakhir.
Karena Abdul Basith adalah salah
satu faktor yang menyebabkan adanya korelasi erat antara muslimin dunia,
tanggal 30 Februari dijadikan sebagai tahun penghormatan atas qari` besar ini
guna mengenang kembali peristiwa yang terjadi pada tanggal 30 November 1988,
hari wafatnya seorang qari` kaliber dunia yang bernama Ustadz Abdul Basith
Muhammad Abdus Shamad.
Syeikh Abdus Shamad Al Palimbani
Syeikh Abdus
Shamad Al Palimbani
Mengendalikan
Perjuangan Dari Mekkah
Penulis : Hery
Sucipto
Dalam percaturan intelektualisme
Islam Nusantara --atau biasa juga disebut dunia Melayu-- khususnya di era abad
18 M, peran dan kiprah Syeikh Abdus Shamad Al-Palimbani tak bisa dianggap
kecil. Syeikh Al-Palimbani, demikian biasa ia disebut banyak kalangan,
merupakan salah satu kunci pembuka dan pelopor perkembangan intelektualisme
Nusantara. Ketokohannya melengkapi nama-nama ulama dan intelektual berpengaruh
seangkatannya semisal Al-Raniri, Al-Banjari, Hamzah Fansuri, Yusuf
Al-Maqassari, dan masih banyak lainnya.
Dalam deretan nama-nama tersebut
itulah, posisi Syeikh Al-Palimbani menjadi amat sentral berkaitan dengan
dinamika Islam. Malah, sebagian sejarahwan, seperti Azyumardi Azra, menilai
Al-Palimbani sebagai sosok yang memiliki kontribusi penting bagi pertumbuhan
Islam di dunia Melayu. Ia bahkan juga bersaham besar bagi nama Islam di
Nusantara berkaitan kiprah dan kontribusi intelektualitasnya di dunia Arab, khususnya
semasa ia menimba ilmu di Mekkah.
Syeikh Abdus Shamad Al-Palimbani
dilahirkan pada 1116 H/1704 M, di Palembang. Tentang nama lengkap Syeikh
Al-Palimbani, sejauh yang tercatat dalam sejarah, ada tiga versi nama. Yang
pertama, seperti dilansir Ensiklopedia Islam, ia bernama lengkap Abdus Shamad
Al-Jawi Al-Palimbani. Versi kedua, merujuk pada sumber-sumber Melayu,
sebagaimana dikutip Azyumardi Azra dalam bukunya Jaringan Ulama Timur Tengah
dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII (Mizan: 1994), ulama besar ini
memiliki nama asli Abdus Shamad bin Abdullah Al-Jawi Al-Palimbani. Sementara
versi terakhir, tulis Rektor UIN Jakarta itu, bahwa bila merujuk pada
sumber-sumber Arab, maka Syeikh Al-Palimbani bernama lengkap Sayyid Abdus
Al-Shamad bin Abdurrahman Al-Jawi. Mana dari ketiga nama itu yang diyakini
sebagai nama Abdus Shamad, Azyumardi berpendapat bahwa nama terakhirlah yang
disebut Syeikh Abdus Shamad.
Kesimpangsiuran nama ulama ini
dapat dimaklumi mengingat sejarah panjangnya berpetualang, baik di dalam negeri
maupun luar negeri, dalam menuntut ilmu. Bila ditilik latar belakang, potret
Al-Palimbani sebenarnya tak jauh beda dengan ulama-ulama Nusantara lainnya,
seperti Hamzah Fansur, Al-Raniri, Al-Singkili, Yusuf Al-Maqassari, hingga para
ulama generasi pelanjut, semisal KH Ahmad Dahlan dan KH Hasyim Asy'ari.
Dari silsilah, nasab Syeikh
Al-Palimbani masih keturunan Arab, yakni dari jalur ayah. Syeikh Abdul Jalil
bin Syeikh Abdul Wahhab bin Syeikh Ahmad Al-Mahdani, ayah Al-Palimbani, adalah
ulama asal Yaman yang diangkat menjadi Mufti negeri Kedah pada awal abad ke-18.
Sementara ibunya, Radin Ranti, adalah wanita Palembang yang diperistri Sheikh
Abdul Jalil, setelah sebelumnya sempat menikahi Wan Zainab, putri Dato' Sri
Maharaja Dewa di Kedah.
Seperti lazimnya anak-anak kecil
di masa itu, Syeikh Al-Palimbani menerima pengajaran agama dari orang tuanya,
selain beberapa guru di kampungnya yang sempat membimbing dirinya. Minatnya
terhadap ilmu-ilmu keagamaan telah terlihat sejak usia dini. Ia misalnya tercatat
mendalami ilmu tasawuf dengan mendalami kitab At-Tuhfah Al-Mursalah (Anugerah
yang Diberikan) dari salah seorang gurunya, Syeikh Abdul Rahman bin Abdul Aziz
Al-Maghribi.
Ia juga mempelajari ilmu Suluk
dari Syeikh Muhammad bin Samman, selain mendalami kitab-kitab tasawuf dari
Syeikh Abdur Rauf Al-Sinkili dan Samsuddin Al-Sumaterani, keduanya dari Aceh.
Selain di kampung halamannya, Syeikh Al-Palimbani juga mendapatkan pendidikan
agama di daerah Kedah dan Patani (Thailand Selatan). Karena sedari kecil lebih
banyak mempelajari ilmu tasawuf, sejarah kemudian mencatat dirinya sebagai
ulama yang memiliki spesialisasi dalam cabang ilmu tersebut.
Merasa kurang puas dengan ilmu
yang dicapainya, orang tua Al-Palimbani kemudian mengirim anaknya itu ke tanah Suci,
Haramayn, Mekkah, dan Madinah. Tidak jelas, kapan ia dikirim ke salah satu
pusat ilmu Islam di kala itu. Sejauh yang terekam oleh sejarah, ia diperkirakan
menginjak dewasa ketika 'hijrah' ke Arabia tersebut. Di negeri barunya ini, ia
terlibat dalam komunitas orang-orang Jawa, dan menjadi kawan seperguruan
menuntut ilmu dengan ulama Nusantara lainnya. Misalnya, Muhammad Arsyad
Al-Banjari, Abdul Wahhab Bugis, Abdul Rahman Al-Batawi, dan Dawud Al-Fatani.
Meski ia menetap di Mekkah, tak berarti ia melupakan negri leluhurnya. Syeikh
Al-Palimbani, catat Azyumardi, tetap memberikan perhatian besar pada
perkembangan sosial, politik, dan keagamaan di Nusantara.
Sejak kepindahannya di Haramayn
ini, Syeikh Al-Palimbani mengalami perubahan signifikan berkaitan dengan
intelektualitas dan spiritualitas. Perkembangan dan perubahan ini tidak lepas
dari proses pencerahan yang diberikan para gurunya. Beberapa gurunya yang
masyhur dan berandil besar dalam proses tersebut, antara lain Muhammad bin
Abdul Karim Al-Sammani, Muhammad bin Sulayman Al-Kurdi, dan Abdul Al-Mun'im
Al-Damanhuri. Selain itu, juga tercatat pernah mengajar Al-Palimbani, semisal
ulama besar Ibrahim Al-Rais, Muhammad Murad, Muhammad Al-Jawhari, dan Athaullah
Al-Mashri. Tidak sia-sia, perjuangannya menuntut ilmu di Masjidil Haram dan
tempat-tempat lainnya, mengantarkan dirinya menjadi salah seorang ulama
Nusantara yang disegani dan dihormati kalangan ulama Arab, juga Nusantara.
Meski mendalami tasawuf, tak
berarti Syeikh Al-Palimbani tidak kritis. Ia tercatat kerap mengkritik kalangan
yang mempraktikkan tarekat secara berlebihan. Tak henti-hentinya, ia selalu
mengingatkan bahaya kesesatan yang diakibatkan oleh aliran-aliran tarekat
tersebut, khususnya tarekat Wujudiyah Mulhid yang terbukti telah membawa banyak
kesesatan di Aceh. Ia memang tak berhenti pada kritik semata. Untuk mencegah
apa yang diperingatkannya itu, Syeikh Al-Palimbani menyarikan dua kitab
karangan ulama dan filosof besar abad pertengahan, Imam Al-Ghazali, yakni kitab
Lubab Ihya' Ulumud Diin (Intisari Ihya' Ulumud Diin), dan Bidayah Al-Hidayah
(Awal bagi suatu hidayah). Dua karya Imam Al-Ghazali ini dinilainya moderat dan
membantu membimbing mereka yang mempraktikkan aliran tarekat sufiyah.
Berkaitan dengan ajaran
tasawufnya, Syeikh Al-Palimbani dinilai mengambil jalan tengah antara doktrin
tasawuf Imam Al-Ghazali dan ajaran wihdatul wujud-nya Ibnu 'Arabi; bahwa
manusia sempurna (insan kamil) adalah manusia yang memandang Hakikat Yang Maha
Esa itu dalam fenomena alam yang serba ganda dengan tingkat makrifat tertinggi,
sehingga mampu melihat Allah SWT sebagai esensi mutlak.
Selain itu, Syeikh Al-Palimbani
juga mengajarkan ajaran-ajaran tarekat Al-Khawatiyah Al-Sammaniyah, yang
menempatkan guru tarekat tidak saja sebagai pembimbing kerohanian, tapi juga
sebagai penghubung antara murid dan Tuhan, bila ingin dikenal secara langsung.
Di Indonesia sendiri, pengaruh Al-Palimbani dinilai cukup besar, khususnya
berkaitan dengan ajaran tasawuf. Petualangan panjangnya baru berakhir pada
1788, ketika Sang Khaliq memanggilnya untuk selama-lamanya, dalam usia senja.
Ulama Produktif dengan Sejumlah
Karya
Tak disangkal lagi, peranan
penting Syeikh Abdus Shamad Al-Palimbani dalam percaturan perkembangan Islam di
Nusantara bukan lantaran keterlibatannya dalam komunitas jaringan ulama. Namun,
lebih karena tulisan-tulisan Syeikh Al-Palimbani yang banyak dibaca pelbagai
kalangan di wilayah Melayu-Indonesia, dan sebagian di dunia Arab, hingga saat
ini.
Bila dicermati, karya-karya
Al-Palimbani menyebarkan bukan saja ajaran-ajaran neosufisme, tetapi juga
secara proaktif menekankan kepada umat Islam akan pentingnya melancarkan jihad.
Yakni, melawan kaum kolonialis Eropa, terutama Belanda, yang kala itu secara
terus menerus melakukan upaya-upaya menundukkan seluruh entitas politik Muslim
di bumi Nusantara.
Dalam konteks ini, Syeikh
Al-Palimbani menulis buku Nasihah Al-Muslimin wa Tazkirah al-Mukminin Fi Fadail
Jihad Fi Sabilillah wa Karamah al-Mujahidin (Nasihat bagi kaum muslimin dan
peringatan bagi kaum mukminin mengenai keutamaan Jihad di jalan Allah SWT). Tak
syak lagi, seruan jihadnya, sebagaimana tertuang dalam karyanya tersebut,
sampai kepada kaum muslimin internasional.
Latar belakang Syeikh
Al-Palimbani menulis buku tersebut antara lain dilandasi keprihatinanya atas
nasib dunia Islam yang kala itu tengah dalam cengkeraman kolonial Eropa.
Karyanya itu memang dinilai berbobot. Bahkan pahlawan nasional Tengku Cik Di
Tiro, penulis buku Hikayat Perang Sabil juga mengutip karya Al-Palimbani
tersebut.
Karya lainnya yang tercatat
monumental adalah dalam kaitan keimanan dan ketauhidan. Di bidang ini ia
menulis Tuhfat Ar-Raghibiin Fi Bayan Haqiqah Iman Al-Mukminin wa maa Yufsiduh
Fi Riddah Al-Murtadiin. Buku yang membahas tentang hakikat iman orang-orang
mukmin dan hal-hal yang merusaknya lantaran kemurtadan ini ditulis pada 1774.
Buku ini ia tulis atas permintaan Sultan Najmuddin, sultan Palembang. Syeikh
Al-Palimbani juga menulis kitab Sayr Al-Salikin Ila Ibadah Rabb Al-Alamin, yang
dikenal sangat berbobot itu.
Tak hanya itu, Syeikh
Al-Palimbani juga menulis buku dalam bahasa Melayu, antara lain; Zuhrad
Al-Murid Fi Bayan Al-Kalimah Tauhid (tentang persoalan logika dan teologi, yang
ditulis di Mekkah pada 1764 M), Al-Urwah Wusqa wa Silsilah Uli Al-Ittiqa (tentang
wirid, berbahasa Arab), Hidayah As Salikin Fi Suluk Maslak Al-Muttaqin
(Petunjuk jalan bagi orang yang ingin mencapai tingkat Taqwa, berbahasa
Melayu), yang ditulis di Mekkah pada 1778, serta buku Ratib Abdus Shamad
(mengenai ratib, yakni zikir, pujian, dan seterusnya). her
Sayidina Abu Bakar Ash Shiddiq
Abu Bakar Ash Shiddiq
Demokrat Penegak Keadilan
Hanya
dalam 2,5 tahun kepemimpinannya, rakyat mencatatnya sebagai khalifah (pemimpin)
Islam yang sukses memberantas kemiskinan, menciptakan stabilitas sosial dan
politik, serta solidaritas kemanusiaan yang tanpa batas. Sekalipun dia pedagang
kaya, tapi kesederhanaan dan kelembutan kepribadiannya selalu mendasari setiap
kebijakan dan kepemimpinannya sebagai pengganti Rasulullah SAW.
Padahal,
boleh dikata berbagai ancaman, disintegrasi dan cercaan yang dialamatkan
kepadanya, tak kalah hebatnya dibanding pada masa Rasulullah. Namun, itu semua
dihadapi dengan hati bening, jiwa lapang, dan pikiran jernih. Ia senantiasa
mengembalikan semua persoalan yang dihadapinya kepada ajaran yang hanif.
Abu
Bakar bernama lengkap Abdullah bin Abi Kuhafah At-Tamimi. Nama kecilnya adalah
Abdul Ka'bah. Gelar Abu Bakar diberikan Rasulullah karena cepatnya dia masuk
Islam (assaabiquunal awwaluun, yakni golongan pertama yang masuk Islam). Sedang
Ash Shiddiq yang berarti 'amat membenarkan' adalah gelar yang diberikan
kepadanya lantaran ia segera membenarkan Rasulullah SAW dalam berbagai
peristiwa.
Dari
garis kedua orang tua, Usman bin Amir bin Amr bin Sa'ad bin Taim bin Murra bin
Ka'ab bin Lu'ayy bin Talib bin Fihr bin Nadr bin Malik (ayah), dan Ummu Khair
Salama binti Skhar (suku Quraisy) terlihat, Abu Bakar termasuk dari suku
terhormat, yakni suku Taim (ayah) dan Quraisy (ibu). Kedua suku ini banyak
melahirkan orang besar.
Sejak
kecil, Abu Bakar dikenal sebagai anak yang cerdas, sabar, jujur dan lembut. Ia
menjadi sahabat Nabi SAW sejak keduanya masih usia remaja. Karena sifatnya yang
mulia itu, ia banyak disenangi dan disegani oleh masyarakat sekitar, juga lawan
maupun kawan saat memperjuangkan Islam.
Abu
Bakar yang juga mahir dalam ilmu hisab itu, dikenal mempunyai kedudukan
istimewa di sisi Nabi SAW. Bahkan salah satu putrinya, yakni 'Aisyah Ra,
kemudian dinikahi Rasulullah.
Secara
universal, sesungguhnya prototipe Abu Bakar mungkin dapat digolongkan sebagai
pejuang Islam yang sejak awal konsisten membela kaum tertindas, tak pandang
bulu. Seperti dikutip Jamil Ahmed dalam Seratus Muslim Terkemuka, Abu Bakar tak
pernah absen dalam setiap pertempuran menegakkan kebenaran dan menumpas
penindasan.
Perjuangannya
itu semakin berat sejak dirinya dipilih sebagai khalifah, menggantikan
Rasulullah yang wafat pada 632 M. Ketika itu, wilayah kekuasaan Islam hampir
meliputi seluruh semenanjung Arabia, dan terdiri berbagai suku.
Terpilihnya
Abu Bakar yang juga disepakati kalangan sahabat itu dinilai tepat saat negara
dalam kondisi tak menentu. Dalam pidato baiat yang dilakukan di Masjid Nabawi,
Madinah, Abu Bakar antara lain menyatakan, "Orang yang lemah di antara
kalian akan menjadi kuat dalam pandangan saya hingga saya menjamin hak-haknya
seandainya Allah menghendaki, dan orang yang kuat di antara kalian adalah lemah
dalam pandangan saya sehingga saya dapat merebut hak daripadanya.
Taatilah
saya selama saya taat kepada Allah dan Rasul-Nya, dan bila saya mendurhakai
Allah dan Rasul-Nya, janganlah ikuti saya."
Sebagai
pemimpin, kedermawanan dan solidaritas kemanusiaannya terhadap sesama tak
diragukan lagi. Ketika Abu Bakar diangkat menjadi khalifah, kekayaannya
mencapai 40.000 dirham, nilai yang sangat besar saat itu. Kekayaan itu
seluruhnya didedikasikan bagi perjuangan Islam. Soal ini, sejarawan Kristen
Mesir, Jurji Zeidan, punya komentar menarik. Katanya, "Zaman
khalifah-khalifah yang alim adalah merupakan keemasan Islam.
Khalifah-khalifah
itu terkenal karena kesederhanaan, kejujuran, kealiman, dan keadilannya. Ketika
Abu Bakar masuk Islam, ia memiliki 40.000 dirham, jumlah yang sangat besar
waktu itu, akan tetapi ia habiskan semua, termasuk uang yang diperolehnya dari
perdagangan demi memajukan agama Islam.
Ketika
wafat, tidaklah ia mempunyai apa-apa kecuali uang satu dinar. Ia biasa jalan
kaki ke rumahnya maupun kantornya. Jarang terlihat dia menunggang kuda..."
Keikhlasannya
yang luar biasa demi kemakmuran rakyat dan agamanya itu, kata Jurji,
sampai-sampai menjelang wafatnya, Abu Bakar memerintahkan keluarganya untuk
menjual sebidang tanah miliknya dan hasilnya dikembalikan ke masyarakat sebesar
jumlah uang yang telah ia ambil dari rakyatnya itu sebagai honorarium, dan
selebihnya agar diberikan kepada Baitulmal wat Tamwil, lembaga keuangan negara.
Stabilitas
dan keamanan masyarakat, di antaranya yang paling menonjol dalam 'rapor'
pemerintahan Abu Bakar. Karena dinilai sebagai amanat negara, Abu Bakar
mengangkat Umar bin Khaththab sebagai kadi (hakim).
Namun,
selama setahun sejak diangkat sebagai kadi tak satupun pengaduan dari
masyarakat muncul. Ini karena rakyat terbiasa hidup jujur dan bersih dibanding
masa sebelum Islam. Sementara Ali, Usman, dan Zaid bin Tsabit diangkat sebagai
khatib.
Di
medan pertempuran, sang khalifah juga mengajarkan bagaimana berperang yang
baik. Sepuluh pesan yang kerap disampaikan khalifah yang wafat pada 13 H, dalam
usia 63 tahun itu, ketika hendak melepas pasukannya ke medan perang adalah:
"Jangan berkhianat, jangan berlebih- lebihan, jangan menipu (berbuat makar),
jangan membunuh lawan dengan cara-cara sadis, jangan membunuh anak-anak, lelaki
lanjut usia, dan wanita.
Juga
jangan menebang pohon-pohon kurma yang sedang berbuah, jangan melakukan
pembakaran, jangan menyembelih domba, sapi, dan unta kecuali hanya untuk
sekadar kebutuhan makan dagingnya. Nanti kalian akan berjumpa dengan
orang-orang yang bertapa dalam biara, maka biarkanlah mereka dan jangan
mengusiknya."n hery s/berbagai sumber
Dijamin
Masuk Surga
Menjadi
Muslim yang baik dan selalu taat pada agamanya tidaklah mudah. Tapi jalan
menuju hal itu selalu terbuka. Sejarah mencatat, Abu Bakar satu dari sekian
banyak sahabat Rasulullah yang dengan tegar dan tabah menghadapi berbagai
cobaan dan tantangan dalam mengamalkan ajaran Islam.
Tapi
jangan pula ditanya seberapa besar kesetiaan Abu Bakar kepada Rasulullah, atau
sejauh mana kualitas keimanannya kepada Allah.
Soal
ini, Nabi sendiri dalam banyak sabdanya secara khusus berujar tentang diri dan
kebaikan Abu Bakar. Kata Nabi SAW, seperti diriwayatkan Imam Bukhari,
"Sesungguhnya Allah mengutusku kepadamu dan kamu berkata, "Engkau
dusta! Sedangkan Abu Bakar berkata, "Dia benar." Abu Bakar menyantuni
aku dengan dirinya dan hartanya.
Tidakkah
kalian berhenti mengganggunya. Sesudah itu, Abu Bakar tak lagi diganggu."
Masuknya Abu Bakar ke dalam Islam pun tak kalah pentingnya sebagai 'ibrah
(hikmah) kita semua. Kisah itu berawal ketika Abu Bakar bertemu Rasulullah.
Kepada Rasul terakhir ini, ia bertanya, "Ya Muhammad apakah benar apa yang
dituduhkan kaum Quraisy (kaumnya Abu Bakar sendiri, Red) terhadapmu bahwa kamu
meninggalkan tuhan-tuhan kita, merendahkan akal pikiran kita dan mengkufuri
ajaran-ajaran nenek moyang kita?" "Ya benar! Sesungguhnya aku ini
Rasul Allah dan Nabi-Nya.
Allah
mengutus aku untuk menyampaikan risalah-Nya dan mengajakmu kepada Allah yang
benar. Demi Allah, itu adalah hak. Aku mengajakmu, hai Abu Bakar kepada Allah
Yang Esa, tunggal, tiada sekutu bagi-Nya. Janganlah kamu menyembah selain Allah
dan patuh serta taatlah kepada- Nya," jawab sang Nabi. Abu Bakar pun masuk
Islam.
Sejak
masuknya Ash Shiddiq ke agama terakhir ini, perjungan dakwah Islam yang
dilakukan Rasulullah makin kuat. Ia yang termasuk periode awal para pemeluk
Islam itu, menjadikan seluruh jiwa, raga dan harta Abu Bakar, hanya untuk
perjuangan dakwah Rasulullah.
Perlindungan
dan pengorbanannya setiap saat terhadap sang Rasul pun dilakukannya
sampai-sampai ia tak memedulikan lagi dirinya sendiri. Soal ini, Rasulullah,
sebagaimana diriwayatkan Ibnu Majah dan Imam Tirmizi, bersabda, "Tiada
seorang pun bermanfaat bagiku hartanya sebagaimana bermanfaat bagiku harta Abu
Bakar."
Sosok
Abu Bakar yang memang memiliki sifat-sifat yang sama seperti Rasulullah, di
antaranya amanah, tablig (menyampaikan), fathanah (cerdas), teguh pendirian dan
taat beragama, rendah diri dan selalu mendahulukan kepentingan orang lain,
itulah yang membuat Rasulullah dalam banyak hal memberikan kepercayaan pada
diri Abu Bakar.
Dengan
kepemilikan hartanya yang cukup banyak, lantaran ia memang saudagar kaya di
masanya, Abu Bakar menjadikan seluruh harta yang dimilikinya hanya untuk
mengabdi di jalan-Nya. Sekalipun dalam kondisi sakit misalnya, Abu Bakar
senantiasa menyambut ajakan amal baik. Seperti dijelaskan sahabat Umar bin
Khaththab, "Aku tidak pernah mendahului Abu Bakar dalam mengamalkan
kebajikan. Dia yang selalu mendahuluiku."
Perjuangan
dan pengorbanan Abu Bakar yang penuh keikhlasan itu oleh Allah akan dibalas
dengan surga. Sebagaimana diceritakan Abu Dzaar Ra, ketika Rasulullah masuk ke
rumah 'Aisyah Ra, beliau mengatakan Abu Bakar termasuk dalam al 'asyarah al
mubasysyiriina bil jannah (sepuluh orang yang dijamin Rasulullah bakal masuk
surga). Dalam kelompok ini juga ada Umar bin Khaththab, Usman bin Affan, Ali
bin Abi Thalib, Thalhah bin Ubaidillah, Zubair Ibnul Awwam, Abdurrahman bin
'Auf, Sa'ad bin Abi Waqqas, Said bin Zaid, dan Abu Ubaidah Ibnul Jarrah.n her






